Showing posts with label EKONOMI BORNEO. Show all posts
Showing posts with label EKONOMI BORNEO. Show all posts

Monday, September 1, 2014

DIAMOND IN BORNEO - WHY WAS LANDAK DISTRICT CALLED DIAMOND CITY ?

MENGAPA KABUPATEN LANDAK DIJULUKI KOTA INTAN DI BORNEO BARAT?
 WHY WAS LANDAK DISTRICT CALLED DIAMOND CITY IN WEST BORNEO ?


The largest diamond ever found and owned by the Royal of Landak was  named Kubi Palladium Diamond (diamond potato) weighing 367 carats.
After that discovery, the diamond was named as Diamond Lake King.
This diamond was found when
Old Prince Raden Nata Sanca Nata Kusuma Old  (1714-1764) reigned as king of the XIX Landak  in Bandong.

Furthermore, as a kingdom, Landak did not cover itself with the outside world. The kingdom was actually active in a relationship with the other kingdoms around West Kalimantan
.
Landak 
diamond recognized the de Beers, a leading mining company in South Africa and in the Netherlands as diamond grinding the hardest in the world.
The beauty and color also became the target of an international collector.
Even experts from the de Beers diamond itself has been reviewing a number of mining sites in the Landak  District
Landak & Golconda!!

Diamonds were discovered in India (Hindia/ Indonesia) during the 4th century B.C., and India was one of the first countries to mine the gem. India's diamonds were prized for their size and beauty for hundreds of years. Indian diamonds were mined in numerous locations that included Borneo, Golconda, Hindostan, Landak and Raolconda.

The diamonds from Landak were especially prized for their brilliance. Some of India's most prized diamonds are known as the "diamonds of Golconda" and the most famous Indian stones include the Hope Diamond, the Koh-i-Noor Diamond, the Orlov Diamond, and the Sanc Diamond. The Darya-i-Nur (Sea of Light) diamond weighed 186 carats and was owned by the Nadir Shah of Persia after it was plundered from India.

 Intan Kubi

Intan terbesar yang pernah ditemukan dan dimiliki oleh Kerajaan Landak bernama Palladium Intan Kubi (intan ubi) dengan berat 367 karat. Setelah penemuan itu, intan tersebut diberi nama sebagai Intan Danau Raja. Intan ini ditemukan tatkala Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714–1764) bertahta sebagai raja Landak ke XIX di Bandong. 
Lebih lanjut, sebagai sebuah kerajaan, Landak tidak menutup diri dengan dunia luar. Kerajaan ini justru aktif menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Kalimantan Barat.Intan Landak diakui pemilik de Beers, perusahaan tambang terkemuka di Afrika Selatan dan pengasahan di Belanda sebagai intan terkeras di dunia. Keindahan pun serta warnanya menjadi incaran kolektor internasional. Bahkan pakar intan dari de Beers sendiri sudah meninjau sejumlah lokasi penambangan di Kabupaten Landak.


Landak & Golconda !! INTAN  ditemukan di India (Hindia / Indonesia) pada abad ke-4 SM, dan India adalah salah satu negara pertama yang menambang permata. Berlian India yang berharga untuk ukuran dan kecantikan mereka selama ratusan tahun. Berlian India yang ditambang di berbagai lokasi yang termasuk Borneo, Golconda, Hindostan, Landak dan Golconda.  
Berlian dari Landak yang sangat berharga untuk kecerdasan mereka. Beberapa berlian yang paling berharga di India dikenal sebagai "berlian dari Golconda" dan batu India yang paling terkenal termasuk Hope Diamond, Koh-i-Noor Diamond, yang Orlov Diamond, dan Sanc Diamond. Darya-i-Nur (Sea of Light) berlian ditimbang 186 karat dan dimiliki oleh Nadir Shah dari Persia setelah itu dijarah dari India.





Wednesday, March 13, 2013

Industrial Area Mandor

Industrial Area Mandor /
KIM- Komplek Industri Mandor West Borneo

 

1103HDI_LANDAK,_Menristek_Gst_M_Hatta_dikalungkan_tenun_setelah_disambut_ritual_adat_dan_tarian_adat_dayak.jpg

Distric of Landak West Borneo desire to have the industrial area immediately realized. Laying the first stone has been made ​​Minister of Research and Technology (Research and Technology) RI Gusti Muhammad Hatta.

Minister  of Research and Technology  Hatta along the National Nuclear Energy Agency (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto have visited and laid the first stone of  construction in  Liansipi Mandor  village, Sub District Mandor District Landak , Monday (03/11/2013) afternoon.

The area is named Mandor  Industrial Estate or Industrial Area Mandor  (IAM / KIM) has conducted groundbreaking plant vulcanised natural rubber latex-based electron beam machine

Laying the first stone in addition to the Minister who accompanied the Head of Batan. Also present were Secretary Kalbar M Zeet Hamdi Asovie, Rector Untan Thamrin Usman, Regent of Landak  Adrianus Asia sidot,
Vice Regent  Herculanus Heriadi , Chairman of the Parliament Landak  Heri Saman and communication forum Local Government and Chief of SKPD Landak District, the  Investor and public figures and the  Muspika of Mandor.
Kebun_karet_Net.jpg


Keinginan Pemkab Landak untuk memiliki kawasan industri segera terwujud. Peletakan batu pertama sudah dilakukan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI Gusti Muhammad Hatta.

Menristek Hatta berserta Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto telah mengunjungi dan meletakan batu pertama pembangunan di kawasan tersebut di Dusun Liansipi Desa Mandor Kecamatan Mandor Kabupaten Landak, Senin (11/3/2013) siang.

Kawasan yang dinamai Mandor Industrial Estate atau Kawasan Industri Mandor (KIM) telah dilakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik vulkanisasi lateks karet alam berbasis elektron beam machine

Peletakan batu pertama tersebut selain Menristek yang di dampingi Kepala Batan. Hadir pula Sekda Kalbar M Zeet Hamdi Asovie, Rektor Untan Thamrin Usman, Bupati Landak Adrianus Asia Sidot, Wakil Bupati Landak Herculanus Heriadi, Ketua DPRD Landak Heri Saman dan forum komunikasi Pemerintahan Daerah Landak serta Kepala SKPD Kabupaten Landak, pihak Investor dan tokoh-tokoh masyarakat serta para Muspika Mandor..

Peletakan batu pertama pembangunan pabrik lateks di Kawasan Industri Mandor


http://pontianak.tribunnews.com/2013/03/11/menristek-awali-pembangunan-kim-di-landak

Monday, March 11, 2013

Definition of Development




Prof. Dr. Hj. Syamsiah Badruddin, M.Si

Conclusion:

Here's the problem, all assessed in terms of economic development - without seeing the impact on the natural and social communities. This konsef liberal economic development see everything
by "MONEY"




Definition of
Development

Development theory in the social sciences can be divided into two major paradigms, modernization and dependency (Lewwellen 1995, Larrin 1994, Kiely 1995 in Tikson, 2005). Modernization paradigm includes macro theories about economic growth and social change, and micro theories of individual values ​​that support the process of change. Dependency paradigm includes theories of underdevelopment (under-development) dependence (dependent development) and the system of the world (world systems theory) in accordance with klassifikasi Larrain (1994). While Tikson (2005) divided into three klassifikasi development theory, namely modernization, underdevelopment and dependency. Of the various paradigms are different versions that appear later on the meaning of development.
Indicators Measurement  of Successful Development

1. per capita income

2. The economic structure

3. urbanization

4. figures Savings

5. Quality of Life Index

6. Human Development Index

Conclusion
:


Here's the problem, all assessed in terms of economic development - without seeing the impact on the natural and social communities. This konsef liberal economic development see everything
by "MONEY"



Penebangan hutan

Penebangan hutan





Pengertian Pembangunan

Teori pembangunan dalam ilmu sosial dapat dibagi ke dalam dua paradigma besar, modernisasi dan ketergantungan (Lewwellen 1995, Larrin 1994, Kiely 1995 dalam Tikson, 2005). Paradigma modernisasi mencakup teori-teori makro tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial dan teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan. Paradigma ketergantungan mencakup teori-teori keterbelakangan (under-development) ketergantungan (dependent development) dan sistem dunia (world system theory) sesuai dengan klassifikasi Larrain (1994). Sedangkan Tikson (2005) membaginya kedalam tiga klassifikasi teori pembangunan, yaitu modernisasi, keterbelakangan dan ketergantungan. Dari berbagai paradigma tersebut itulah kemudian muncul berbagai versi tentang pengertian pembangunan.
Indikator Pengukuran Keberhasilan Pembangunan

1.       Pendapatan perkapita

2.       Struktur ekonomi

3.       Urbanisasi

4.       Angka Tabungan

5.       Indeks Kualitas Hidup

6.        Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
Kesimpulan :
Inilah yang jadi masalah, sepanjang pembangunan dinilai dari sisi ekonomi- tampa melihat dampak pada alam dan sosial masyarakat. Ini konsef pembangunan ekonomi liberal yang melihat segala sesuatu dengan
" UANG  "



Perkebunan sawit
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/

Sunday, February 24, 2013

Dayak in PTPN XIII


Dayak in PTPN XIII



  • OVERVIEW in PMAD PTPN XIIIBackground:Bah Jambi Plantation State Company began developing businesses in oil palm in Kalimantan in 1979/1980, which became the target location Estates West Kalimantan.Location of oil palm plantation, palm oil and rubber hybrid by PNP VII Bah Jambi  in West Kalimantan,  96% is customary land which subsequently changed its name to PTP VII(Limited)In 1996, by decree of the Minister of Finance dated 11 March 1996 No.199/kmk/616/1996 equity PTPN XIII through asset wealth projects - projects PTP: VI, VII, XII, XIII, XVIII, XXIV, XXV, XXVI and XXIX (Bar-Kal, Kal-Teng, Kal-Tim and Kal-Sel). PTPN XIII (Limited) Regulation No 18 of 1996 dated February 14, 1996.Since the opening of the plantation companies to date for Top Management at Manager level not significant even at the level of the head of the Board of Directors level, let alone have never been there.For the present time has a highly educated  Dayak and Experienced employees and achievement to lead the field of oil, but lack the opportunity to lead in PTPN XIII (Limited).Purpose and Objectives:"In the presence of PTPN XIII (Limited) in Kalimantan. Dayak who is experienced and educated participate to the level of Chief Manager, District Manager, Head of Department and Directors, in order to grow and develop PTPN XIII(Limited) with indigenous peoples and the environment "Vision and MissionVision: Enhancing Public Participation in Local Development and Dayak in PTPN. XIII.(Limited)Mission: Leadership of Dayak as Business Actors in Regional Development and PTPN XIII (Limited)

    GENERAL MANAGEMENT STRUCTURE
    DKB - DKB AND I - II.1. Patron / Advisor: DAD Province,
                                      
    DAD District.Chairman: Cassian BusiuChairman I: G.RadusiChairman II: NicodemusVice Chairman: V.Iyom (Parindu), Sius Surian (Parindu), Ibrahim (PMS Parindu), Kong He (Ngabang), Hendri Kanoh (PMS Ngabang), U.Tono, Budi, Pius Gabriel, L.Pines.Herman Sater , Martinus, Leonardi.2. Secretary general: F. Herianto (Rimba Belian),Secretary: 1. Arry Asnawi (Prd) 2. Y. Jurito (RBA),Deputy Secretary: Krisantus (Prd), Tongam (Rsp), Syarifudin (KBN), Salim (PMS Prn) Sunardi(RBN), Efendi. S. Sos (Gunme)3. Treasurer: Semi Matheus (Jungle)Treasurer F. Sagam (PMS Ngabang), Sugiono B(PMS RBA).Deputy Treasurer: Aaron (Prd), Single (KBN), Sukardi (PMS Parindu) F. Sagam (PMS Ngabang), Beno (Rsp) Asinisius (NGB), RF. Sujan (RBA), Kuswandi Sos (RBA), Heronimus SE(Gunmas) Maria Yustina Alei (RBA), Sari(Gunmas)SECTIONSMass raiser: Gunadi, Simon, Atang, H. Acai, Kibas, Ander (kby), Sambolon (kby), Paul (DKB II), Donatus (DKB II), Jehoshaphat (NGB), Alifin (NGB), S. Bahiyan (NGB), Elpidius (kby), Suprapto (Prd), Alimin. Semi Matheus, Kalpian Alap, Adius, Satudi, Sumadi Adi, FX. Kus, Abet Nego Pihi, Kaut, Stepanus, Sabinus, Cassian Kopin, Usman, F. Adianto, Ajai Riadi, Safe Matthew, Luke SP, Selvanus Joto, Hendrikus Edyel.Publication: Daniel (Prd), Max Namlin (RSP), Natalis (DKB II), Samlin (PMS NGB), Junaidi (PMS NGB), Susilo (kby), F. Jaelani (kby), N. Syamsudin John Nyerom, B.Beni AMD, Sukandi, Sambolon, Sugiono.Information: Marselus, Bartholomew, Sata, Rahman.Enterprise Funds: Sambastianus,, CH.Mundus, Mondo, Sondra S, Markus, Olos, K.Yanto, Bardinata, Ibn Hajar, Martinus Ugah, H. Sumadi SH, P. Ayon, Matheus Acin, Yohanes.HR.Anen



    D
    ayak di PTPN 13SELAYANG PANDANG
      di PMAD PTPN XIII

    Latar Belakang :

    PNP Bah Jambi mulai mengembangkan usaha dalam komoditi kelapa sawit di Kalimantan pada tahun 1979/1980, yang menjadi sasaran lokasi Perkebunan Propinsi Kalimantan Barat.
    Lokasi pembukaan perkebunan kelapa sawit, kelapa hibrida dan karet oleh PNP VII Bah Jambi di Kalimantan Barat 96 % merupakan tanah adat yang selanjutnya berubah nama menjadi PTP VII
    ( Persero )

    Pada tahun 1996 berdasarkan SK Menteri Keuangan RI No.199/kmk/616/1996 tanggal 11 maret 1996 penyertaan modal PTPN XIII melalui kekayaan aset proyek – proyek PTP : VI,VII,XII,XIII,XVIII,XXIV,XXV,XXVI dan XXIX ( Kal-Bar, Kal-Teng, Kal-Sel dan Kal-Tim ). PTPN XIII ( Persero ) PP No 18 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996.
    Sejak dibukanya Perusahaan Perkebunan sampai dengan saat ini untuk Top Manajemen pada tingkat Manajer belum signifikan bahkan pada tingkat kepala bagian apalagi ditingkat Direksi belum pernah ada.

    Untuk saat sekarang sudah banyak Putra Dayak yang berpendidikan tinggi dan Karyawan yang berpengalaman dan berprestasi untuk memimpin dibidang perkebunan, namun kurang mendapat peluang memimpin di PTPN XIII ( Persero ).


    Maksud dan Tujuan :

    “ Dengan keberadaan PTPN XIII ( Persero ) di Kalimantan sudah saatnya Putra Dayak yang sudah berpengalaman dan berpendidikan ikut berperan serta menjadi Pemimpin ditingkat Manajer, Distrik Manajer, Kepala Bagian maupun Direksi, demi tumbuh dan berkembang PTPN XIII
    ( Persero ) bersama masyarakat adat dan lingkungan”


    Visi dan Misi

    Visi : Meningkatkan Peran Serta Masyarakat Dayak dalam Pembangunan Daerah Dan PTPN. XIII.
    ( Persero )


    Misi : Kepemimpinan Putra Dayak sebagai Pelaku Bisnis dalam Pembangunan Daerah dan PTPN XIII (Persero)

    SUSUNAN PENGURUS UMUM
    DKB – I  DAN DKB – II.


    1. Pelindung/Penasehat : DAD Propinsi,
                                          DAD
    Kabupaten.

    Ketua Umum : Kasianus Busiu
    Ketua I : G.Radusi

    Ketua II : Nicodemus

    Wakil Ketua : V.Iyom (Parindu ),Sius Surian (
    Parindu ), Ibrahim (PMS Parindu),Kong Dia (Ngabang),Hendri Kanoh (PMS Ngabang),U.Tono,Budi, Pius Gabriel, L.Pines.Herman Sater, Martinus, Leonardi.

    2. Sekretaris umum : F. Herianto
    (Rimba Belian ),

    Sekretaris : 1. Arry Asnawi (Prd) 2. Y. Jurito (Rba),


    Wakil Sekretaris : Krisantus (Prd), Tongam (Rsp), Syarifudin ( Kbn ), Salim ( PMS Prn ) Sunardi
    ( Rbn ), Efendi. S. Sos ( Gunme )


    3. Bendahara umum : Matheus Semi (Rimba)

    Bendahara F. Sagam (PMS Ngabang), Sugiono B
    ( PMS Rba).

    Wakil Bendahara : Harun ( Prd ), Bujang ( Kbn ), Sukardi ( PMS Parindu )
    F. Sagam ( PMS Ngabang ), Beno ( Rsp ) Asinisius ( Ngb ), RF. Sujan ( Rba ), Kuswandi Sos ( Rba ), Heronimus SE
    ( Gunmas )
    Maria Yustina Alei ( Rba ), Sari
    ( Gunmas )


    SEKSI-SEKSI

    Penggalang Massa : Gunadi, Simon, Atang, H. Acai, Kibas, Ander (Kby), Sambolon (Kby), Paul (DKB II), Donatus (DKB II), Yosafat (Ngb), Alifin (Ngb), S. Bahiyan (Ngb), Elpidius (Kby), Suprapto (Prd), Alimin. Matheus Semi, Kalpian Alap, Adius, Satudi, Sumadi Adi, FX. Kus, Abet Nego Pihi, Kaut, Stepanus, Sabinus, Kasianus Kopin, Usman, F. Adianto, Ajai Riadi, Matius Aman, Lukas SP, Selvanus Joto, Hendrikus Edyel.

    Publikasi : Daniel (Prd), Max Namlin (RSP), Natalis (DKB II), Samlin( PMS Ngb), Junaidi (PMS Ngb), Susilo (Kby), F. Jaelani (Kby), N. Syamsudin Yohanes Nyerom, B.Beni AMd, Sukandi, Sambolon, Sugiono.
    Informasi : Marselus , Bartolomeus, Sata, Rahman.
    Usaha Dana : Sambastianus, , CH.Mundus, Mondo, Sondang S, Markus, Olos, K.Yanto, Bardinata, Ibnu Hajar, Martinus Ugah, H. Sumadi SH, P. Ayon, Matheus Acin, Yohanes.HR.Anen



By:
Chrysantoes

Friday, February 15, 2013

One well could produce 5,000 barrels per day, that could provide benefits Rp 5 billion per day

One  well could produce 5,000 barrels per day, that could provide benefits   Rp 5 billion per day
Satu  sumur itu bisa menghasilkan 5.000 barel per hari, kalau dirupiahkan bisa memberikan keuntungan Rp 5 miliar per hari
We produce oil, gas, timber and minerals as well as oil palm , but we get nothing???????????????????





PT
Pertamina has oil fields in North Borneo, the field Bunyu. The oil wells in this field produce a profit of Rp 5 billion per day to the state-owned oil and gas.


It was submitted by the General Manager of Pertamina EP Eastern Indonesia (KTI) Satoto Agustono when met at Pertamina Central Office, Jakarta, Friday (02/15/2013).

"In the Field Bunyu precisely in BN-18 in North Borneo, 1 well could produce 5,000 barrels per day, that could provide benefits   Rp 5 billion per day," said Satoto.

Satoto be said, is an area of ​​187.5 km2 Bunyu field, and the first run of the Dutch in 1901.

"In 1957 and taken over by Nlam Permindo, then switch to Pertamina in 1968, renamed Pertamina and PT Ustraindo operated in 1993-1994, and in 1995 was taken over Pertamina's back up now," he said.

Currently, said Satoto, oil production in the Field Bunyu reach 10,000 barrels per day.

"Oil production in the Field Bunyu reach 10,000 barrels per day, but the average production reached 7420 barrels per day," said Satoto.









PT Pertamina memiliki ladang minyak di Kalimantan Utara, yakni lapangan Bunyu. Satu sumur minyak di lapangan ini menghasilkan keuntungan Rp 5 miliar per hari kepada BUMN migas ini.


Hal tersebut disampaikan oleh General Manager Pertamina EP Kawasan Timur Indonesia (KTI) Satoto Agustono ketika ditemui di Kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Jumat (15/2/2013).

"Di Lapangan Bunyu tepatnya di BN-18 di Kalimantan Utara, 1 sumur itu bisa menghasilkan 5.000 barel per hari, kalau dirupiahkan bisa memberikan keuntungan Rp 5 miliar per hari," kata Satoto.

Dikatakan Satoto, luas wilayah lapangan Bunyu adalah 187,5 km2, dan pertama kali dikelola dari zaman Belanda pada tahun 1901.

"Pada tahun 1957 diambil alih oleh Nlam dan Permindo, lalu beralih ke Pertamin pada tahun 1968 yang berganti nama Pertamina, dan pada 1993-1994 dioperasikan PT Ustraindo, dan pada 1995 diambil alih Pertamina kembali sampai sekarang," ungkapnya.

Saat ini, kata Satoto, produksi minyak di Lapangan Bunyu mencapai 10.000 barel per hari.

"Produksi minyak di Lapangan Bunyu mencapai 10.000 barel per hari, tapi produksi rata-ratanya mencapai 7.420 barel per hari," tandas Satoto.

block bunyu

Thursday, February 14, 2013

Funds expended by entrepreneurs to buy fresh fruit bunches (FFB) of oil palm in West Kalimantan reached Rp 8 trillion.

Funds expended by entrepreneurs to buy fresh fruit bunches (FFB) of oil palm in West Kalimantan reached Rp 8 trillion.



Kebun Sawit

Each year
, funds expended by entrepreneurs to buy fresh fruit bunches (FFB) of oil palm in West Kalimantan reached Rp 8 trillion. Businessmen asked the government to build a number of vital infrastructure, so that the upstream palm oil increased.

Chairman of the Association of Indonesian Plantations (GPPI) West Kalimantan, Ilham Sanusi, on Thursday (02/14/2013), in Pontianak, explains, the economic multiplier effect in the community is huge.

"The amount of funds flowing into West Kalimantan was just coming out of some 800,000 hectares of oil palm, from palm oil plantation target of 1.5 million by 2025. Economic multiplier effect will be even greater," said Ilham.

However,
Businessmen  are still complaining about the lack of vital infrastructure for business activities in the downstream sector. Ilham gave the example of the issue of electricity and export port.
"The port is very important export, but until now there has been no realization. We sincerely hope that the basic infrastructure that can be quickly met," said Ilham.


Rp 8 Triliun Mengalir ke Kalbar
Buah sawit


Pelabuhan Pontianak

Setiap tahun, dana yang dikeluarkan para pengusaha untuk membeli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Barat mencapai Rp 8 triliun. Pengusaha meminta pemerintah membangun sejumlah infrastruktur vital, supaya kegiatan hulu kelapa sawit lebih meningkat.
Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalimantan Barat, Ilham Sanusi, Kamis (14/2/2013), di Pontianak, menjelaskan, dampak pengganda ekonomi di tingkat masyarakat sangat besar.
"Besarnya dana yang mengalir ke Kalbar itu baru berasal dari sekitar 800.000 hektar kebun sawit, dari target 1,5 juta kebun sawit hingga 2025. Dampak pengganda ekonominya akan semakin besar," ujar Ilham.
Namun, para pengusaha masih mengeluhkan minimnya infrastruktur vital untuk kegiatan usaha di sektor hilir. Ilham memberi contoh mengenai persoalan listrik dan pelabuhan ekspor.
"Pelabuhan ekspor sangat penting, tetapi sampai sekarang masih belum ada realisasinya. Kami sangat berharap, infrastruktur dasar itu bisa secepatnya terpenuhi," kata Ilham.

Kerusakan jalan Kalimantan


Kerusakan jalan Kalimantan

Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2013/02/14/11295717/Rp.8.Triliun.Mengalir.ke.Kalbar?utm_source=WP