Minggu, 14 September 2014

Rombongan SDNU- Sarawak Dayak National Union rehat di Istana rakyat Ngabang Kab-Landak, diterima dan dijamu makan oleh delegasi DAD Kab-Landak

The delegations of SDNU- Sarawak Dayak National Union  have a break at 'The People Palace' in  Ngabang, received and entertained lunch  by the delegates  of DAD Kab Landak
 
Rombongan SDNU- Sarawak Dayak National Union  rehat di Istana rakyat Ngabang
Kab Landak, diterima dan dijamu makan oleh delegasi DAD Kab-Landak





Mr.
Ludis is 

as Chairman of  DAD Landak gives speech




Waiting the guests


Mr.
Spencer gives
gift to
the Head of DAD Kab Landak





Mr.
Spencer is as 
Head  the group of SDNU gives speech



Waiting the guests



Have lunch



Waiting the guests



To have photo together




The Team of SDNU  leave Ngabang
up to Singkawang

Sabtu, 13 September 2014

THE RELATIONSHIP AMONG THE PONTINAK SULTANATE WITH THE DAYAK KINGDOMS OF MEMPAWAH AND MATAN


HUBUNGAN KESULTANAN PONTIANAK DENGAN KERAJAAN DAYAK 
MEMPAWAH DAN MATAN
SERTA PERAN DAYAK DALAM MEMBUKA HUTAN UNTUK LOKASI  MENDIRIKAN ISTANA DAN MASJID

THE RELATIONSHIP AMONG  THE PONTINAK SULTANATE WITH THE DAYAK KINGDOMS 
OF MEMPAWAH  AND MATAN

AND THE ROLE OF DAYAKS IN OPENING THE FORESTS FOR STARTING LOCATION PALACE AND MOSQUE  



Keraton Pontianak yang megah dengan struktur bangunan dari kayu yang kokoh, didirikan oleh Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie pada tahun 1771.Keraton Pontianak merupakan perpaduan dari Arab-Yaman, Dayak , Banten dan Bugis.


Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie, keturunan Al Habib Husin, hasil pernikahannya dengan putri Dayak- Nyai Tua ( Banten Dayak ) dari Kerajaan Matan Ketapang; dan Syarief Abdurrachman Alqadrie menikahi Utin Tjandramidi ( Bugis Dayak )  anak Daeng Manambon dari Mempawah.

Maka merekapun mengikuti peluru meriam itu. Mereka mula-mula mendirikan pondok-pondok sederhana beratapkan ilalang, namun ternyata gangguang hantu Pontianak itu tidak berhenti bahkan mengancam jiwa mereka oleh sebab itu mereka kemudian kembali kedalam perahunya. Saat itu mereka hendak mendirikan sebuah Mesjid sebelum mendirikan sebuah Keraton, namun setiap kali pohon itu ditebang esoknya pohon itu bertaut kembali.

Maka berangkatlah mereka menggunakan sampan menuju anak Sungai Kapuas sambil mencicipi rasa air sungai apakah tawar atau asin. Ketika mereka menyusuri sungai itu terdengarlah suara orang  yang mengatakan “MALAIYA” (Sebenarnya kalimat lengkapnya adalah “MAE MALA IYA?” yang dalam bahasa Dayak Kendayan artinya “bagaimana membelahnya?”). Maka sesegera mungkin mereka ini kembali ke KAKAP dan memberitahukan perihal ini kepada Syarif Abdurrahman.
Mendengar berita ini Syarif Abdurrahman sangat gembira maka Ia bersama anak buahnya pergi menyusuri sungai itu (Sungai itu sekarang bernama MALAYA), setibanya disana ia bertemu 7 orang Dayak yang sedang memasak. Kemudian Syarif Abdurrahman bertanya kepada mereka “Siapakah Kamu?”. Ketujuh orang Dayak ini yang masih menggunakan cawat berlata: “KAMI INILAH RAKYAT PUSAKA TURUNAN MEMPAWAH MENCARI HIDUP DI DAERAH SUNGAI BERCABANG DUA”, lalu Syarif Abdurrahman bertanya lagi: “Pandaikah kamu bekerja?” merekapun menjawab semua kami bisa bekerja apa saja.



Kemudian Syarif Abdurrahman menceritakan semua permasalahan yang mereka hadapi terutama gangguan hantu Pontianak, maka Syarif Abdurrahman meminta bantuan ketujuh Orang Dayak itu jika mereka berhasil menebang pohon untuk mereka mendirikan mesjid.
Ketujuh orang dayak inipun menyanggupinya namun harus diadakan sebuah upacar adat yaitu dengan mengalirkan darah binatang (babi) disekeliling kayu yang akan ditebang itu dan meminta ijin kepada roh-roh penunggunnya.

Lalu ketujuh orang Dayak ini melakukan ritual dan mempersembahkan korban dan mulailah mereka menebang pohon tersebut dan sebentar saja tanpa gangguang pohon itupun tumbang.
Atas jasa ketujuh orang Dayak itu Syarif Abdurrahman memberikan hadiah berupa berkarung-karung beras, pakaian.
Dan mereka telah punya lahan kebun yang terbentang  sepanjang Sungai Ambawang, selebar lima puluh depa.

Ketujuh Orang Dayak ini kemudian membuka lahan tersebut serta diikuti oleh rombongan Suku Dayak secara bergelombang.

Rombongan pertama sejumlah 20 keluarga, pemimpinnya tidak disebutkan namanya, mereka bertani dan mendiami daerah kampung Durian.

Rombongan kedua dipimpin oleh Macan Sumit bersama 40 keluarga mendiami Kampung Cabang Kiri

Rombongan ketiga dipimpin oleh Tumenggung Madja bersama 60 keluarga mereka mendiami Simpang Kanan


Rombongan kelima dipimpin oleh Nek Nane bersama 100 keluarga, mereka mendiami daerah Pancaroba, Ngabang dan Landak.

Demikianlah sejarah keterlibatan Suku Dayak dalam pembentukan Kerajaan Pontianak.



I. Sisilah Kerajaan Mempawah.

Masa Dayak


  1. Patih Gumantar (± 1380)
  2. Raja Kudung (± 1610)
  3. Panembahan Senggaok (± 1680)


Masa Islam



  1. Opu Daeng Menambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara (1740–1761)
  2. Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma (1761–1787)
  3. Syarif Kasim bergelar Panembahan Mempawah (1787–1808)
  4. Syarif Hussein (1808–1820)
  5. Gusti Jati bergelar Sri Paduka Muhammad Zainal Abidin (1820–1831)
  6. Gusti Amin bergelar Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin (1831–1839)
  7. Gusti Mukmin bergelar Panembahan Mukmin Nata Jaya Kusuma (1839–1858)
  8. Gusti Makhmud bergelar Panembahan Muda Makhmud Alauddin (1858)
  9. Gusti Usman bergelar Panembahan Usman (1858–1872)
  10. Gusti Ibrahim bergelar Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin (1872–1892)
  11. Gusti Intan bergelar Ratu Permaisuri (1892–1902)
  12. Gusti Muhammad Thaufiq Accamuddin (1902–1944)
  13. Gusti Mustaan (1944–1955); diangkat oleh Jepang
  14. Gusti Jimmi Muhammad Ibrahim Bergelar Panembahan XII (1955-2002)
  15. Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim bergelar Panembahan XIII (2002–sekarang)

 

II. Sisilah Kesultanan Pontianak.

 



Pontianak palace with a magnificent structure of solid wood, founded by Sultan Syarif Abdurrachman 1771. Pontianak Palace is a fusion of Arabic-Yemeni, Dayak, Banten and Bugis.


Sultan Syarif Abdurrachman Alqadrie, Al Habib Husin descent, marriage to the daughter Dayak- Nyai Tua (Bantam Dayak) of the Kingdom of Matan Ketapang; and Syarif Abdurrachman Alqadrie married Utin Tjandramidi (Bugis Dayak
the daughter  of Daeng Manambon from  Mempawah.

So they follow the cannon ball. They initially establish the simple huts thatched roofs, but it turns out gangguang Pontianak ghost was not stopped even threatening their lives so they then go back into the boat. At that time they wanted to establish a Mosque before setting up a palace, but each time the tree was cut down the tree fit together again the next day.

So off they went by boat to the child while tasting flavors Kapuas River river water is fresh or salty. As they walked along the river there was a saying "MALAIYA" (Actually the full sentence is "MAE MALA YES?" Which in Kendayan Dayak language means "how to split it?"). So as soon as they returned to KAKAP and inform about this to Syarif Abdurrahman.

Hearing this news very excited Syarif Abdurrahman He and his men then went down the river (the river now named MALAYA), upon his arrival there he met 7 of the Dayaks who are cooking.

Syarif Abdurrahman then asked them, "Who are you?". This seventh Dayaks are still using loincloth berlata: "HERE WE ARE LOOKING FOR PEOPLE LIVING HERITAGE Mempawah DERIVATIVES IN THE RIVER forked", then Syarif Abdurrahman asked again: "Could do  you work?" They also answer "all of us can work whatever".


Then Syarif Abdurrahman told all the problems they face especially ghosts disorders Pontianak, then Syarif Abdurrahman
seek seven Dayaks  help if they managed to cut down their trees to establish a mosque.
Seven
Dayaks even this would  not do otherwise but to be held a custom was  to drain the blood of animals (pigs) around the timber to be harvested it and asked for permission to spirits in the trees.


Then this seven Dayaks performed  rituals and sacrifices and they began to cut down the tree and without briefly rose trees uprooted.
The services seven Dayaks to Syarif Abdurrahman;  he gave  the gift sacks of rice and  clothes.

And they've got a garden area which extends along the River Ambawang, fifty fathoms wide.
Seven Dayaks then cleared  the land and was followed by a Dayak group in waves.


The first batch of some 20 families, leaders not named, they farmed and inhabited the village Durian.
The second delegation was led by Macan Sumit with 40 families inhabit the village of Left Cross- Simpang Kiri;
The third delegation led by Temenggung Madja
with 60 Members and   their families inhabit the Simpang Right Cross-Kanan


The
fifth delegation was led by Nek Nane  with 100 families, they inhabit the transition area, Ngabang and Landak area.
Thus the history of involvement of
Dayak in the establishment the kingdom of  Pontianak.

Istana Kadariah