Selasa, 12 Agustus 2014

MISI KATOLIK DAN PENDIDIKAN ORANG DAYAK

MISI KATOLIK DAN PENDIDIKAN ORANG DAYAK

CATHOLIC MISSION AND EDUCATION  
OF DAYAK PEOPLE

Karya misi Katolik dimulai di bagian selatan Kalimantan Timur atau daerah sungai Mahakam. Ketiga misionaris yang pertama dari ordo OFMCap memulainya di stasi Laham pada bulan Juni 1907.
Mereka adalah Pastor Libertus Cluts OFMCap, Pastor Camillus Buil OFMCap dan Bruder Ivo OFMCap. Pada awalnya para misionaris itu mau memulai karya misi di kampung lain, misalnya Mamahak Besar atau Long Iram, tetapi akhirnya kampung Laham yang dipilih karena jumlah penduduknya waktu itu 96 orang.

Perubahan baru terjadi untuk Gereja di Kalimantan – awalnya dirintis oleh Pastor H. Looymans  diutus menjadi misionaris pertama bagi orang Dayak, tanggal 29 Juli 1890. Takhta Apostolik mendirikan dan menetapkan Kalimantan sebagai Prefektur Apostolik baru pada tanggal 11 Februari 1905, sebagai bagian dari Vikariat Batavia. Prefektur baru ini diserahkan kepada para imam Ordo Fransiskan Kapusin yang dalam hal ini ditangani oleh Kapusin Provinsi Belanda. Pada saat bersamaan, Takhta Apostolik mengangkat Pastor Giovanni Pacificio Bos, OFM. Cap sebagai Prefek Apostolik Kalimantan yang pertama. Tanggal 30 November 1905, para misionaris Kapusin pertama tiba di Singkawang. Prefektur baru ini meliputi seluruh wilayah Kalimantan yang dikuasai oleh Belanda (Borneo Hollandese) pada waktu itu, dengan tempat kedudukan Prefek Apostolik di Singkawang. Ketika stasi (paroki) Pontianak dibuka pada tahun 1909, maka pusat pelayanan dan tempat tinggal Prefek pun dipindahkan ke Pontianak pada tahun yang sama.

Sejak ditinggalkan tahun 1898, baru pada bulan Mei 1906, stasi Sejiram dikunjungi lagi oleh Pastor. Kunjungan ini dilakukan oleh Prefek Apostolik Pacificio Bossendiri. Tujuannya semata untuk suatu penjajakan. Setelah kunjungan penting ini, Prefek memutuskan untuk membuka kembali stasi Sejiram. Akhirnya, pada tanggal 22 Agustus 1906, stasi Sejiram resmi dibuka atau diaktifkan kembali oleh Prefek Apostolik seraya menugaskan Pastor Eugenius OFM Cap, Pastor Camillus OFM Cap, dan Bruder Theodorius OFM Cap untuk menetap dan melayani umat di stasi Sejiram. Tahun 1907, sebuah gereja dan pastoran baru telah berdiri. Sayangnya dua bangunan ini terbakar habis pada tahun 1913.Diduga gereja dan pastoran ini dibakar oleh anak Pak guru Djandung, yang tidak suka dengan para Pastor.

Tidak lama kemudian karya misi di Sejiram diperkokoh dengan datangnya beberapa Suster Fransiskanes dari Veghel (Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC), yaitu, Sr. Didelia, Sr. Casperina dan Sr. Cajetana pada tahun 1908. Datangnya para misionaris Kapusin dan Suster-Suster Fransiskanes tersebut merupakan titik awal baru perkembangan Gereja di wilayah ini. Ladang sudah dibuka dan benih mulai ditanam. Wilayah stasi Sejiram ini meliputi wilayah Keuskupan Sintang dan sebagian dari wilayah Keuskupan Sanggau sekarang ini.

Ketika para misionaris Kapusin datang ke Sejiram, mereka tidak menemukan apa-apa lagi kecuali rumah tinggal Pastor. Gedung lain, seperti Gereja, sekolah dan ruma-rumah lainnya yang dibangun oleh Pastor Looymans,sudah tidak ada. Gedung telah hilang dan musnah, tetapi benih iman kristiani yang dulu ditanam ternyata masih hidup dan bertumbuh, walaupun ditinggalkan selama beberapa tahun. Beberapa umat Katolik yang dipermandikan sebagai anak kecil oleh Pastor Looymans ternyata masih ada. Setiap hari Minggu berkumpul rata-rata 50 orang untuk sembahyang dan mengikuti pelajaran agama. Gereja dan Pastoran baru pun segera mulai dibangun.




CATHOLIC MISSION AND EDUCATION  
OF DAYAK PEOPLE

Catholic mission work began in the southern part of East Kalimantan, Mahakam area. These three were the first missionaries of the Capuchin order in stations Laham started in June 1907.
They are Libertus Cluts Capuchin Father, Father Camillus and Brother Ivo Buil Capuchin Capuchin. At first the missionaries would begin mission work in other villages, such as Mamahak Large or Long Iram, but eventually the village Laham chosen because the population at that time 96 people.



The new changes happening to the Church in Borneo - originally pioneered by Pastor H. Looymans became the first missionary sent to the Dayaks, dated July 29, 1890 established the Apostolic See and set Kalimantan as the new Apostolic Prefecture on February 11, 1905, as part of the Vicariate of Batavia. This new prefecture handed over to the priests of the Capuchin Franciscan Order in this case is handled by the Capuchin province of the Netherlands. At the same time, the Apostolic See appointed Father Giovanni Pacificio Boss, OFM. Cap as first Prefect Apostolic of Borneo. Dated 30 November 1905, the first Capuchin missionaries arrived in Singkawang. This new prefecture covers the entire territory controlled by the Dutch Borneo (Borneo Hollandese) at that time, the seat of the Prefect Apostolic in Singkawang. When outstations (parish) Pontianak opened in 1909, the service center and shelter prefect was moved to Pontianak in the same year.

Since abandoned in 1898, it was not until May 1906, Sejiram stations visited again by Fr. The visit was carried out by the Prefect Apostolic Pacificio Bossendiri. Its purpose is solely to an assessment. After this important visit, prefect decided to reopen Sejiram stations. Finally, on August 22, 1906, officially opened Sejiram stations or reactivated by the Prefect Apostolic Father Eugene while assigning OFM Cap, Father Camillus OFM Cap, and Brother Theodorius OFM Cap to settle and serve the people in Sejiram stations. In 1907, a new church and rectory had been standing. Unfortunately these two buildings burned down in the church and rectory 1913.They  were  burned by Mr. Djandung's children, who did  not like with the Father.

Not long after the work of the mission in Sejiram strengthened by the arrival of some of the Franciscan Sisters of Veghel (Sisters of St. Francis of the Immaculate conception of the Holy Mother of God (SFIC), namely, Sr. Didelia, Sr. and Sr. Casperina Cajetana in 1908 The arrival of the Capuchin missionaries and the Franciscan Sisters is a new starting point for the development of the Church in this region. fields have been opened and the seed was planted. region Sejiram stations include Sintang diocese and diocese Sanggau part of this now.

When the Capuchin missionaries came to Sejiram , they did not find anything else except stay home Father. Other buildings, such as churches, schools and other ho-houses built by Father Looymans, is not there. The building has been lost and destroyed, but the seeds were first planted the Christian faith was still alive and growing, although abandoned for several years. Some Catholics were  baptized as a child by Father Looymans was still there. Every Sunday gathered an average of 50 people to worship and follow religious instruction. Church and a new rectory was built soon.




Sumber : http://www.gerejasejiram.com/sejiram/index.php?option=com_content&view=article&id=17&Itemid=19

Sabtu, 02 Agustus 2014

REVOLUSI BUDAYA


REVOLUSI BUDAYA

Oleh: Yohanes Ngalai


 Februari  2004
PEMILU Presiden (Pilres) tinggal menghitung hari, tepatnya 8 Juli 2009 mendatang. Kalau kita lihat isu yang muncul seputar calon presiden dan wakil presiden yaitu sipil dan militer, jawa dan luar jawa, Islam dan non Islam, pengusaha dan non pengusaha, birokrat dan non birokrat. Dari semua isu tersebut muncullah tiga kandidat capres dan cawapres tahun ini.

Disini muncul kecerdasan Pemilu kita, dari isu yang saja sebutkan diatas tadi muncul isu Ekonomi. Ini merupakan era baru dalam demokrasi kita, setelah presiden dan wakil presiden di pilih oleh ‘pemegang mandat atau rakyat’. namun ada yang mengusik penulis tentang mashab Ekonomi yang diusung, antara lain, Ekonomi Neolib, Ekonomi Kerakyatan dan Ekonomi Islam.

Saya setuju dengan budayawan dalam dialog dengan Capres dan cawapres, untuk membangun bangsa ini bukan bersumber dari ekonomi. Ada yang salah dalam pendidikan berbudaya di Indonesia. (data menunjukan makin banyak orang yang bertitel, S1, S2 dan S3, namun moral bangsa makin kacau).

Menurut hemat saya, presiden dan wakil presiden, harus mengadakan revolusi untuk merombak sistem pendidikan berbudaya, yang intinya bagaimana manusia Indonesia yang berbudaya dan pada akhirnya ‘ kekayaan ekonomi’ kita digunakan dengan tanggung jawab untuk kepentingan Bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi dan golongan, antara perkataan sesuai dengan perbuatan serta janji harus ditepati.

Ini semua sudah ada dalam Pancasila dan UUD 1945 dan di sana sudah jelas apa tujuan bangsa ini, yang diperlukan sekarang detail dan actionnya dalam bentuk Rencana Pembangunan (RP) atau dalam istilah zaman ORBA dulu disebut GBHN. Kiranya tulisan ini menjadi renungan kita bersama, semoga. 
(penulis adalah warga Kab. Landak) 



Presidential Election (Pilres) has had its day, July 8, 2009 to be exact next. If we look at the issues that arise surrounding the candidates for president and vice president of the civilian and military, Java and outside Java, Islamic and non-Islamic, entrepreneurs and non-entrepreneurs, bureaucrats and non-bureaucrats. Of all these issues arose three presidential and vice presidential candidates this year.

Here comes the intelligence of our elections, from the issues mentioned above was just emerging economy issues. This is a new era in our democracy, after the president and vice president chosen by the holder or the mandate of the people '. but there is a disturbing writer on Economic mashab promoted, among others, Neolib Economics, Economic Democracy and Islamic Economics.

I agree with humanists in dialogue with the President and vice, to build this nation comes not from the economy. There is nothing wrong in cultured education in Indonesia. (Data shows more people are titled, S1, S2 and S3, but the morale of the nation more chaotic).

In my opinion, the president and vice president, should bring about a revolution to overhaul the education system cultured, which is essentially how the Indonesian people are cultured and ultimately 'economic wealth' we used with responsibility for the interests of the Nation above personal and group interests, between words accordance with the act and the promise must be kept.

It's all there in the Pancasila and the 1945 Constitution and there is clear what the purpose of this nation, which is needed now detailed and the action in the form of Development Plan (RP) or in terms of age ORBA used to be called the Guidelines. It seems to be an afterthought this paper we are together, hopefully.

 Borneo Hotel

Aston Hotel



Selasa, 29 Juli 2014

LEKO / BONTOKG -Rice or glutinous rice wrapped in leaves- 'layakng' and cooked in bamboo


LEKO / BONTOKG

Beras atau beras  ketan yang dibungkus daun 
( Layakng )  dan dimasak pada bambu




Rice or glutinous rice wrapped in leaves- Layakng and cooked in bamboo







Leko

Pohon Garing


Pohon Garing -  
Tree of Life in  Central Kalimantan



Ornamen Batang Garing Belum
Ornamen berikut merupakan ornamen Batang Garing Belum, Batang artinya pohon Belum berarti hidup, untuk kata Garing dalam bahasa Dayak Ngaju diartikan secara baku merujuk pada kata lain yang melengkapinya, secara semiotik kata tersebut muncul dalam bentuk simbol hasil konvensi dari masyarakat Dayak Ngaju, sebagai contoh sebagai berikut:
1) Telur ayam yang berisikan cairan yang hidup, terdiri dari dua macam cairan
bening dan cairan kuning, cairan bening itulah yang disebut "Garing"
sedangkan cairan kuning disebut "bulau" jadi di sini kata Garing berarti cairan
kuning yang hidup (awal kehidupan).
2) Garing tarantang, berarti anak kandung sendiri (berawal dari cairan).
3) Garing tabela belom, berarti anak-anak muda usia (Garing muda).
4) Garing tukang tuyang, berarti anak atau bayi yang sedang dalam ayunan.
5) Katil Garing , berarti bangku panjang tempat duduk (biasa dipakai oleh para
Basir).

The ornaments of Batang Garing

The following is an ornament Batang Garing, Trunk means the tree is living, for Garing in Dayak Ngaju language interpreted by default refer to other words that complete it, the semiotic words that appear in the form of a symbol of the result of the Dayak
Ngaju community  convention, for example as follows:

1) chicken eggs containing living fluid, consisting of two kinds of liquids and a clear yellow fluid, a clear liquid that is called "Garing" while the yellow liquid called "boelau" so here said "Garing" mean fluid  yellow living (beginning of life).

2) Garing tarantang, meaning child of their own  

    (originated from the liquid).
3) Garing tabela Keith, mean age young children  

    (younger Garing ).
4) Garing tukang tuyang, means a child or baby in the 

    swing.
5) Katil Garing, means the long bench seat  

    (usually used by the Basir).


YNN

Senin, 28 Juli 2014

DAYAK FOODS

MASAKAN DAYAK
DAYAK FOODS

1. Sigah Babi ( Chopped pork cooked in bamboo)






2. Masak Babi Kecap ( Cooked pork in Soy sauce )
 
 
 
 
3. Panggang  Babi  ( Roasted pork )
 
 


3. Babi  masak umbut (  Pork with Umbut-falm stem)