Senin, 01 September 2014

DIAMOND IN BORNEO - WHY WAS LANDAK DISTRICT CALLED DIAMOND CITY ?

MENGAPA KABUPATEN LANDAK DIJULUKI KOTA INTAN DI BORNEO BARAT?
 WHY WAS LANDAK DISTRICT CALLED DIAMOND CITY IN WEST BORNEO ?


The largest diamond ever found and owned by the Royal of Landak was  named Kubi Palladium Diamond (diamond potato) weighing 367 carats.
After that discovery, the diamond was named as Diamond Lake King.
This diamond was found when
Old Prince Raden Nata Sanca Nata Kusuma Old  (1714-1764) reigned as king of the XIX Landak  in Bandong.

Furthermore, as a kingdom, Landak did not cover itself with the outside world. The kingdom was actually active in a relationship with the other kingdoms around West Kalimantan
.
Landak 
diamond recognized the de Beers, a leading mining company in South Africa and in the Netherlands as diamond grinding the hardest in the world.
The beauty and color also became the target of an international collector.
Even experts from the de Beers diamond itself has been reviewing a number of mining sites in the Landak  District
Landak & Golconda!!

Diamonds were discovered in India (Hindia/ Indonesia) during the 4th century B.C., and India was one of the first countries to mine the gem. India's diamonds were prized for their size and beauty for hundreds of years. Indian diamonds were mined in numerous locations that included Borneo, Golconda, Hindostan, Landak and Raolconda.

The diamonds from Landak were especially prized for their brilliance. Some of India's most prized diamonds are known as the "diamonds of Golconda" and the most famous Indian stones include the Hope Diamond, the Koh-i-Noor Diamond, the Orlov Diamond, and the Sanc Diamond. The Darya-i-Nur (Sea of Light) diamond weighed 186 carats and was owned by the Nadir Shah of Persia after it was plundered from India.

 Intan Kubi

Intan terbesar yang pernah ditemukan dan dimiliki oleh Kerajaan Landak bernama Palladium Intan Kubi (intan ubi) dengan berat 367 karat. Setelah penemuan itu, intan tersebut diberi nama sebagai Intan Danau Raja. Intan ini ditemukan tatkala Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714–1764) bertahta sebagai raja Landak ke XIX di Bandong. 
Lebih lanjut, sebagai sebuah kerajaan, Landak tidak menutup diri dengan dunia luar. Kerajaan ini justru aktif menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Kalimantan Barat.Intan Landak diakui pemilik de Beers, perusahaan tambang terkemuka di Afrika Selatan dan pengasahan di Belanda sebagai intan terkeras di dunia. Keindahan pun serta warnanya menjadi incaran kolektor internasional. Bahkan pakar intan dari de Beers sendiri sudah meninjau sejumlah lokasi penambangan di Kabupaten Landak.


Landak & Golconda !! INTAN  ditemukan di India (Hindia / Indonesia) pada abad ke-4 SM, dan India adalah salah satu negara pertama yang menambang permata. Berlian India yang berharga untuk ukuran dan kecantikan mereka selama ratusan tahun. Berlian India yang ditambang di berbagai lokasi yang termasuk Borneo, Golconda, Hindostan, Landak dan Golconda.  
Berlian dari Landak yang sangat berharga untuk kecerdasan mereka. Beberapa berlian yang paling berharga di India dikenal sebagai "berlian dari Golconda" dan batu India yang paling terkenal termasuk Hope Diamond, Koh-i-Noor Diamond, yang Orlov Diamond, dan Sanc Diamond. Darya-i-Nur (Sea of Light) berlian ditimbang 186 karat dan dimiliki oleh Nadir Shah dari Persia setelah itu dijarah dari India.





Minggu, 31 Agustus 2014

PETI- MASALAH DAN SOLUSI

PETI- MASALAH DAN SOLUSI


KASUS 

Kasus Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang banyak terjadi di  Kab Landak Provinsi Kalbar, salahsatunya di sepanjang sungai Landak dan Mandor, serta Mempawah. Selain aktivitas pertambangan yang tidak dilengkapidengan izin, juga aktivitas penambangan emas tersebut merusak alam dan ekosistem sertamenyengsarakan kehidupan warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai, seperti di saat kemarau, sumur warga kering dan air sungai yang seharusnya dapat dimanfaatkan, sudahtercemar akibat limbah PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin).


FAKTA HUKUM

1.Maraknya Pertambangan emas tanpa izin di Kab Landak.
2.Pertambangan emas tanpa izin di sepanjang aliran sungai Landak, Mandor, mempawah yang  mencemariair sungai akibat Limbah yang dihasilkan dari Pertambangan Emas Tanpa Izin tersebut.


SUMBER  HUKUM

  1.Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan- ketentuan Pokok
     Pertambangan.
  2.Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan  Lingkungan Hidup
  3.Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.
  4.Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan  dan  Pengelolaan
      Lingkungan Hidup.



ISU HUKUM


1.Apakah penambangan emas tanpa izin yang resmi  dari  
   Pemerintah dapat   melangsungkan aktifitas
   pertambangan ?
2.Bagaimanakah tindakan Pemerintah untuk menyelesaikan

   masalah yang   dirasakanmasyarakat setempat akibat 
   limbah tambang emas dan penegakkan hukumnya 
   terhadapkasus tersebut ?
3.Siapakah yang bertanggung jawab atas  perbuatan 

   penambangan emas tanpa izin yangterjadi pada kasus 
   tersebut ?








 ANALISIS
Pertama:
Pentingnya Izin dari Pemerintah Terkait Izin Usaha Pertambangan
Berdasarkan Pasal 1 UU No. 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok

Pertambangan menyatakan, bahwa “
Semua bahan galian yang terdapat dalam wilayahhukum pertambangan Indonesia yang merupakan endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, adalah kekayaan nasional bangsa Indonesia dan oleh

Pentingnya Izin dari Pemerintah Terkait Izin Usaha Pertambangan
Berdasarkan Pasal 1 UU No. 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan menyatakan, bahwa “

Semua bahan galian yang terdapat dalam wilayahhukum pertambangan Indonesia yang merupakan endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, adalah kekayaan nasional bangsa Indonesia dan oleh
karenanya dikuasai dan dipergunakan oleh Negara untuk sebesar-besarnyakemakmuran rakyat
“.
 Pasal tersebut membuktikan bahwa setiap warga Negara Indonesia dapatmemanfaatkan sumber daya alam yang ada, namun tetap mematuhi peraturan-peraturandaerah yang ada, bahwasanya setiap pendirian bangunan ataupun usaha harus adaizinnya.Penambangan emas tanpa izin yang resmi dari Pemerintah, tentu dan sudah pasti dilarang dan merupakan suatu aktifitas yang illegal. Diwajibkannya setiap usaha untuk mengantongi izin usaha ialah merupakan upaya pemerintah dalam pengelolaan danpemantauan terhadap lingkungan, seperti yang tercantum dalam Pasal 15 ayat (1) UU No.
11 Tahun 1967, bahwa “

Usaha pertambangan yang ada hanya dapat dilakukan oleh perusahaan atau perseorangan yang tersebut dalam pasal 6,7,8 dan 9, apabilakepadanya telah diberi kuasa pertambangan

“. Isi pasal tersebut menunjukkan bahwa
 yang dapat dan dibolehkan untuk menjalankan usaha pertambangan ialah mereka yangtelah mengantongi izin dan syarat-syarat lain yang menyertai dikeluarkannya izintersebut.Banyaknya perusahaan pertambangan yang belum mengantongi izin dari instansiterkait merupakan bukti bahwa masih lemahnya pengawasan pemerintah Landak terhadap jalannya aktifitas pertambangan di Kab Landak Provinsi Kalbar. Salah satu contohnyaadalah usaha pertambangan emas di sepanjang sungai Landak, Mandor dan Mempawah  pada kasus diatas.
Pemerintah diminta untuk meninjau pemberlakuan WPR- Wilayah Perambangan Rakyat.Kedua:
Upaya Penegakkan Hukum oleh Pemerintah dalam Penyelesaian MasalahUsaha Pertambangan Tanpa Izin
Di dalam penegakkan hukum ada dua sarana penegakkan hukum yang dapatdilakukan oleh pemerintah, yaitu langkah preventif ( pengawasan ) dan langkah represif (penerapan sanksi ).

Pada kasus di atas, sarana penegakkan hukum preventif atau pengawasan tidak dapat dilakukan lagi, karena disini posisi perusahaan penambang emas tersebut ialah belum ada atau tidak ada izin pengoperasian, dan pada kasus tersebut terlihat bahwapenambangan tanpa izin tersebut sudah lama beroperasi sebelum diketahuinya bahwausaha-usaha tersebut tidak mengantongi izin. Maka oleh karena itu tindakan yang dilakukan pemerintah ialah melakukan penegakkan hukum dalam bentuk penerapansanksi (represif).

Selain banyaknya perusahaan yang tidak memiliki izin usaha pertambangan,  dari pertambangan tersebut telah merusak lingkungan dan merugikan masyarakat sekitarnya, karena terjadi pencemaran lingkungan, yaitu disebabkan olehlimbah tambang tersebut, mengakibatkan tercemarnya aliran sungai.Berdasarkan Pasal 1 angka 12 UU No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan
lingkungan hidup, bahwa “ Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalamlingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingka

tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukkannya “.
 Maka pada kasus tersebut pemerintah dapat menerapkan sanksi administrasi yang ada yaitu Bestuurdwang ( paksaan pemerintah ) dan Dwangsom ( Uang paksa ).
Penerapan paksaan pemerintah merupakan bentuk sanksi administrasi berupakarakter yuridis, ialah dilakukan dalm bentuk tindakan nyata untuk mengakhiri suatukeadaan yang dilarang oleh suatu kaidah hukum administrasi. Dalam penerapan paksaanpemerintah tidak melalui proses peradilan, karena penerapan sanksi ini merupakan wewenang eksekutif sebagai organ pemerintah, tepatnya dilaksanakan oleh Kepaladaerah yang dibantu oleh Satuan Polisi Pamong Praja.

Seperti yang disebutkan padaPasal 148 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintah daerah, bahwa Satpol PP bertugas menegakkan peraturan daerah.Gubernur atau Kepala daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintah untuk mengakhiri terjadinya pelanggaran serta menanggulangi akibat yangditimbulkan oleh pelanggaran berupa aktifitas pertambangan emas tanpa izin. Disini Satuan Polisi Pamong Praja membantu melakukan penghentian paksa aktifitaspertambangan di lapangan, menyegel tempat pertambangan serta menyita barang- barang terkait aktifitas pertambangan. Kemudian, berdasarkan kerugian yang dirasakanmasyarakat, yaitu pencemaran air sungai akibat limbah pertambangan. Bagi peroranganmaupun perusahaan tambang tersebut juga dapat dikenakan sanksi uang paksa, sesuai dengan Pasal 87 UU No. 32 Tahun 2009 Tentang perlindungan dan pengelolaanlingkungan hidup menyebutkan bahwasanya Si pelanggar harus melakukan ganti rugi.

Hal ini adalah realisasi dari azas yang ada dalam lingkungan hidup, yang disebut Azas Pencemar membayar, selain diharuskan membayar ganti kerugian, pencemar dan/atauperusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakanhukum tertentu, misalnya memulihkan kembali fungsi lingkungan hidup yang telahtercemari.
Ketiga:
Pertanggungjawaban Tindakan Pertambangan Emas Tanpa Izin.
Mengenai siapa yang tepatnya bertanggung jawab pada kasus di atas ialah perorangan dan perusahaan yang melakukan aktifitas pertambangan illegal tersebut.Bagi perusahaan yang melakukan usaha pertambangan emas tanpa izin tersebutdapat dikenakan sanksi uang paksa berupa uang sebagai ganti kerugian atas apa yangmenimpa masyarakat yang merasakan dampak limbah dari usaha pertambangan tersebut.Bagi mereka atau orang yang berperan vital dalam pertambangan emas tanpa izintersebut, maka dapat dikenakan Pasal 31 ayat (1) UU No. 11 Tahun 1967 TentangKetentuan-
ketentuan Pokok Pertambangan,
Dihukum dengan hukuman penjaraselama-lamanya enam tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Lima ratus ribu rupiah,barang siapa yang tidak mempunyai kuasa pertambangan melakukan usaha pertambangan.

KESIMPULAN ANALISIS

Dari analisis kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa penambangan emas disepanjang sungai Landak, Mandor dan Mempawah Provinsi Kalbar tersebut adalah illegal, karena tidak mengantongi izin dari instansi terkait. Kemudian akibat aktifitas pertambangan emastersebut menimbulkan pencemaran, kerusakan lingkungan hidup akibat limbah yangdihasilkan dari aktifitas pertambangan tersebut, sehingga menyebabkan kerugian bagimasyarakat setempat.
Pada kasus ini upaya penegakkan hukum yang dapat dilakukan pemerintah ialah penerapan sanksi administrasi berupa paksaan pemerintah (Bestuurdwang).
Pemerintah Kab Landak diminta untuk melakukan ijin WPR terseleksi bagi masyarakat Landak.




Disadur dari:
http://www.academia.edu/4710650/Analisis_Hukum_Kasus_Pertambangan_Emas_Tanpa_Izin_PETI_di_Sungai_Batanghari_Provinsi_Jambi




MENGITARI KOTA JAKARTA



MENGITARI KOTA JAKARTA SAAT PENENTUAN PUTUSAN MAKAMAH KONSTITUSI ATAS SENGKETA PILPRES PADA TANGGAL 
21 AGUSTUS 2014


 Berkemas, mau menuju Jakarta


Nunggu taxi , mau menuju Jakarta

 Dari Bogor, mau menuju Jakarta


 Singah di Mes Tanjungpura di  Jakarta


Jalan menuju gedung MK diblokir

 
 Sekitar Gedung MK, Jl Veteran


Jl Senen Jakarta

 
Mes Tanjung Pura Jakarta

 
 Jalan diblokir menuju Gedung MK Jakarta


Keluar Jakarta melewati Gedung Setneg



Sabtu, 30 Agustus 2014



Asal kata 'BANANGGAR'







Kata BANANGGAR, berasal dari penduduk lokal sekitar Dusun Perbauk- yaitu Dayak Serimbo. Arti kata BANANGGAR  adalah KADANGARATN ( Kanayatn ) atau kedengaran dalam bahasa Indonesia.

Mengapa bisa jadi Mananggar, Kata BANANGGAR
( nama asli ); diucapkan Mananggar oleh Laut serimbo.

Karena yang banyak berintaraksi dengan orang luar; sebelum era reformasi adalah orang LAUT. Maka Bananggar, lebih sering di dengar Mananggar.

Menurut orang di sekitar air terjun; minta kata Bananggar jangan diganti dengan kata lain. Itu asli bahasa di sini ( Dusun Perbauk ).

The Origin  word  of 'BANANGGAR'



BANANGGAR word, derived from local residents about the Dayak village Perbauk- Serimbo. Meaning of the word BANANGGAR is KADANGARATN (Kanayatn) or
( be heard ) in English.

Why could be said as 'Menanggar., BANANGGAR (real name); Mananggar spoken by LAUT serimbo.

Because of LAUT had interacted with outsiders; before the reform era. So Bananggar, more often heard Menanggar.

According to people around the falls;said Bananggar must not be replaced with other words. It is  the original language here
(Hamlet Perbauk).


Kamis, 28 Agustus 2014

PAK KASIH - DAYAK FIGHTER IN DEFENDING THE LAND OF BORNEO


PAK KASIH - PEJUANG DAYAK DALAM MEMBELA TANAH BORNEO
PAK  KASIH - 
DAYAK FIGHTER IN DEFENDING THE  LAND OF  BORNEO


Tubuhnya tidak laki kekar dan tegap, bungkuk tubuhnya pertanda tua, sepintas tidak ada yang menyangka bahwa itu adalah Bucong (82) saksi hidup pejuang kemerdekaan RI di Kabupaten Landak.

Masih teringat dimatanya di tahun 1946 waktu itu umurnya 19 tahun ia bersama kawan-kawannya yang sudah mendahuluinya seperti Gusik, apang, dan kotel berperang melawan belanda ketika Belanda datang kembali ke Indonesia dengan tentara NICA nya. Menurut kakek kelahiran Ganteng 3 Juni 1927 ini, sekitar lebih dari 500 pejuang orang Dayak bermarkas pertahanan di Baseko tepatnya di Desa Batung Pulai. Radius peperangan kurang lebih 3 km dari markas pejuang Dayak dengan tempat pertempuran di pertama Sijangkok.

Bucong mengisahkan bahwa serdadu Belanda sekitar 4 truk berada di Sebadu, pada waktu itu Panglima Sidong, Bardan Nadi dan Pak Kasih mengadakan rapat di Baseko tepatnya di rumah Amit (Mantri telepon). “Mereka akhirnya memberitahukan perang akan terjadi” Ungkap Bucong menerawang.
Tidak lama kemudian pada pukul 16:30 WIB, oktober 1946 mulai terjadi perang dengan tentara Belanda. “ Keahliannya orang Dayak pada waktu itu menutupi jalan dengan menebang pohon agar mobil Belanda tidak bisa lewat dan tidak bisa menyerang perkampungan warga orang Dayak” Kilasnya sambil memegang setapang lantaknya.
Dikisahkannya, Panglima Indat yang juga ikut dalam pertempuran membentuk pasukan Gerakan Rakyat Merdeka (Geram) Kubu I tempat pertemuan di Sepatah . Orang Dayak diundang oleh Bardan Nadi untuk membahas strategi peperangan melawan pasukan Belanda, dari situlah pejuang Dayak itu melanjutkan mangkok putih ba calek jalanang merah sehingga menyebar ke berbagai pelosok-pelosok desa. Setelah itu di Kampong Batung Pulai ditempatkan pertemuan besar-besaran yang pertama untuk mempersatukan para pejuang orang Dayak dan di Batung Pulai sebagai markas utama bagi pasukan Bala pejuang.
Lokasi kedua pertemuan di rumah Timanggong Amin Amer, tempat berunding bagi pasukan orang Dayak.

Pertemuan ini sempat dibubarkan, tidak lama seteleh itu pasukan kemudian pindah ke Sidas, disana diadakan pertemuan yang ketiga untuk terakhir kalinya bertempat di rumah Utih Daris, tujuannya untuk membahas menghadapi pasukan tentara Belanda yang ada di Ngabang.
Setelah rapat berencana akan membunuh Ya’ Umar seorang pribumi mata-mata Belanda, namun yang dicari tidak ketemu. Tidak lama waktu berselang Belanda tiba di Sidas. Melihat jumlah kedua kubu cukup imbang Belanda dan mengadakan perundingan dengan Panglima Pak Kasih. Pihak Belanda mengatakan ’’Senjata orang Dayak di turunkan,kami akan menyerahkan kemerdekaan ini kepada orang Dayak” Kata Bucong menirukan Komandan Belanda.
Namun permintaan itu ditolak oleh Pak Kasih dengan tantang ’’Baik nya Tuan buang senjata-senjata Tuan, kami tidak akan menyerah”. Kedua kubu saling mempertahankan pasukannya akhirnya tercapai kesepakatan tidak akan saling menembak. Setelah perundingan itu pak kasih beristirahat sejenak.

Beliau melepaskan semua beban yang ada ditubuhnya mulai dari senapan, tangkitn, hingga jimatnya. Setelah berunding dengan pasukan tentara Belanda, Pak Kasih ditipu oleh kaki tangan Belanda yang tempat istrirahatnya berbeda dengan Pak kasih. Kaki tangan belanda itu yang sengaja pelepaskan tembakan kearah Belanda sehingga Belanda mengira bahwa yang menembak ke arah mereka adalah kubu pak kasih. Belanda memberikan hujan peluru ke arah Pak Kasih dan kawan-kawannya, dan akhirnya pak kasih beserta kawan-kawan yang lain pun gugur dalam pertempuran, demikian Bucong mengakhiri kenangannya.
Berikut nama nama yang gugur di pertempuran Sidas yang dimakamkan di makam Juang Sidas,:
Nane alis Pak Kasih ,
Icik laso,
Dalon,
Joah ,
Simen,
Sinyun,
Ayub,
Fohin,
Dilam,
Bujang,
Unsang,
Husin,
Kowe,
Ja’I,
Johari,
Rabai, Aris,
Kari, Yamae,
Natonah,
Fatimah,
Dahlan,
Matoa,
Jalin,
Pak Sukna,
Usman,
Derani,
Abun,
Ya’Ai,
Paini,
Ahmat, dan
Kasim. 





Bananggar Waterfall


Bananggar Waterfall in Air Besar Sub-District, 
Landak  District of West Kalimantan
 
 




Bananggar Waterfall in Sub- District of  Air Besar, Landak  District in West Borneo is rich with tourism potential, especially rafting lovers.
The plan early August of each year  through the Department of Local Government of  Youth, Sports, Tourism and Culture (Disporabudpar) Landak will hold various events in locations Bananggar Falls. The goal is to promote the natural resources owned by the District of  Diamond, nicknamed Landak  District.

"Leaving there, from Serimbu up to Tauk we held off road, then travel to the location of Tauk Falls Bananggar use the river path. The plan, the activities that will be held next August 29, 2014. Not only that, in Serimbu before off road to Tauk, we held a demonstration activities, traditional diamond panning, "said Head of Tourism Landak Regency
( Disporabudpar
).

Before the activity, Disporabudpar already do share preparation. Especially for off road site surveys and site preparation rafting and traditional diamond panning demonstration. Coordination with relevant agencies already done. Just waiting for instructions from Mr. Regent, and he  also will follow the event.

"The plan, the group will stay one night there. Later that night we will create a single organ entertainment events. Later in the morning before going home we will create event fishing and rafting. This activity is an attempt to explore the potential of the region, as well as promotion of the region, "he explained.
The Landak  River fault location will be the center of off road and river rafting. In addition to the natural authenticity, Landak  District Government will also arrange the needs of visitors.

Among these toilets, dressing rooms, the construction of the gate, and park visitors.

High Falls Bananggar based on the results of the initial survey of about 60 meters and the width of the river is almost the same, also 60 meters. "Bananggar is a gift given by God to the Landak people. Due to go there there is no cost too great. Streets where all helpful for tourist trips, "


Air Terjun Bananggar 
di Kecamatan Air Besar, 
Kabupaten Landak Kalimantan Barat


 –
Air Terjun Bananggar di Kecamatan Serimbu, Kabupaten Landak sangat kaya dengan potensi wisata khususnya para pencinta arung jeram.
Rencananya awal Mei Pemerintah Daerah Landak melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporabudpar) mengadakan berbagai kegiatan di lokasi Air Terjun Bananggar. Tujuannya untuk mempromosikan kekayaan alam yang dimiliki Negeri Intan, julukan Kabupaten Landak.

“Berangkat ke sana, dari Serimbu sampai ke Tauk kita adakan off road, kemudian dari Tauk perjalanan ke lokasi Air Terjun Bananggar menggunakan jalur sungai. Rencananya, kegiatan yang akan diselenggarakan 29 Agustus 2014  mendatang. Bukan hanya itu, di Serimbu sebelum off road ke Tauk, kita adakan peragaan kegiatan, mendulang intan secara tradisional,” kata  Kepala Bidang Pariwisata Disporabudpar.

Sebelum kegiatan, Disporabudpar sudah melakukan berbagi persiapan. Khususnya survei lokasi untuk off road dan persiapan lokasi arung jeram dan peragaan mendulang intan secara tradisional. Koordinasi dengan instansi terkait sudah dilakukan. Tinggal menunggu instruksi dari Bupati Landak yang juga akan mengikuti kegiatan tersebut.

“Rencananya, rombongan akan menginap satu malam di sana. Malamnya kita akan buat acara hiburan organ tunggal. Kemudian pagi sebelum pulang kita akan buat acara mancing dan arung jeram. Kegiatan ini sebagai upaya untuk menggali potensi daerah, juga sebagai ajang promosi daerah,” jelasnya.
Lokasi patahan Sungai Landak ini akan dijadikan pusat off road dan arung jeram. Selain keaslian alam, Pemkab Landak juga akan menata kebutuhan pengunjung.

Di antaranya WC, ruang ganti, pembangunan pintu gerbang, dan tempat parkir pengunjung.

Tinggi Air Terjun Bananggar berdasarkan hasil survei awal sekitar 60 meter dan lebar sungai hampir sama, juga 60 meter. “Bananggar memang sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada Landak. Karena untuk menuju ke sana tidak diperlukan biaya terlalu besar. Jalan yang dilewati semua bermanfaat untuk perjalanan wisata,”
 




Rabu, 27 Agustus 2014

THE DAYAK KINGDOM IN LANDAK


KERAJAAN DAYAK DI LANDAK
 THE DAYAK KINGDOM IN  LANDAK
The Kingdom of Landak  was  Dayak kingdom, which was  due to the influence of Islam into the kingdom of Landak  (Dayak Islam); because Islam arrived in the Kingdom of Landak in 1472. It was not Malay Kingdom.
 
 


 

Periode pemerintahan kerajaan ini di bagi ke dalam empat periode dari dua fase, yaitu: Fase Dayak Hindu
  • Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292–1472)
Fase Dayak Islam ( Laut )
  • Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472–1703)
  • Kerajaan Landak di Bandong (1703–1768)
  • Kerajaan Landak di Ngabang (1768–sekarang)

Fase Dayak Hindu

  • Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292–1472)
  1. Ratu Sang Nata Pulang Pali I
  2. Ratu Sang Nata Pulang Pali II
  3. Ratu Sang Nata Pulang Pali III
  4. Ratu Sang Nata Pulang Pali IV
  5. Ratu Sang Nata Pulang Pali V
  6. Ratu Sang Nata Pulang Pali VI
  7. Ratu Sang Nata Pulang Pali VII

 

Fase Dayak Islam ( Laut ) 

1472–1542 (Islam masuk pada periode ini di Kerajaan Landak)

  • Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472–1703)
  1. Raden Iswaramahayan Raja Adipati Karang Tanjung Tua atau Raden Abdul Kahar (1472–1542) (Islam masuk pada periode ini di Kerajaan Landak)
  2. Raden Pati Karang Raja Adipati Karang Tanjung Muda (1542–1584)
  3. Raden Cili (Tjili) Pahang Tua Raja Adipati Karang Sari Tua (1584–1614)
  4. Raden Karang Tedung Tua (wakil raja) Raja Adipati Karang Tedung Tua (1614–1644)
  5. Raden Cili (Tjili) Pahang Muda Raja Adipati Karang Sari Muda (1644–1653)
  6. Raden Karang Tedung Muda (wakil raja) Raja Adipati Karang Tedung Muda (1679–1689)
  7. Raden Mangku Tua (wakil raja) Raja Mangku Bumi Tua (1679–1689)
  8. Raden Kusuma Agung Tua (1689–1693)
  9. Raden Mangku Muda (wakil Raja) Pangeran Mangku Bumi Muda (1693–1703)
  • Kerajaan Landak di Bandong (1703–1768)
  1. Raden Kusuma Agung Muda (1703–1709)
  2. Raden Purba Kusuma (wakil raja) Pangeran Purba Kusuma (1709–1714)
  3. Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714–1764)
  4. Raden Anom Jaya Kusuma (wakil raja) Pangeran Anom Jaya Kusuma (1764–1768)
  • Kerajaan Landak di Ngabang (1768–sekarang), dengan kepala negara bergelar Paduka Panembahan dan kepala pemerintahan bergelar Paduka Pangeran
  1. Raden Nata Muda Pangeran Sanca Nata Kusuma (1768–1798)
  2. Raden Bagus Nata Kusuma (wakil raja) Ratu Bagus Nata Kusuma (1798–1802)
  3. Gusti Husin (wakil raja) Gusti Husin Suta Wijaya (1802–1807)
  4. Panembahan Gusti Muhammad Aliuddin (1807–1833)
  5. Haji Gusti Ismail (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Haji Gusti Ismail (1833–1835)
  6. Panembahan Gusti Mahmud Akamuddin (1835–1838)
  7. Ya Mochtar Unus (wakil panembahan) Pangeran Temenggung Kusuma (1838–1843)
  8. Panembahan Gusti Muhammad Amaruddin Ratu Bagus Adi Muhammad Kusuma (1843–1868)
  9. Gusti Doha (wakil panembahan) (1868–1872)
  10. Panembahan Gusti Abdulmajid Kusuma Adiningrat (1872–1875)
  11. Haji Gusti Andut Muhammad Tabri (wakil panembahan) Pangeran Wira Nata Kusuma (1875–1890)
  12. Gusti Ahmad (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Gusti Ahmad (1890–1895)
  13. Panembahan Gusti Abdulazis Kusuma Akamuddin (1895–1899)
  14. Gusti Bujang Isman Tajuddin (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Gusti Bujang (1899–1922)
  15. Panembahan Gusti Abdul Hamid (1922–1943)
  16. Gusti Sotol (wakil panembahan) (1943–1945)
  17. Haji Gusti Mohammad Appandi Ranie (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Gusti Mohammad Appandi Ranie Setia Negara (1946, hanya sekitar 4 bulan berkuasa)
  18. Pangeran Ratu Haji Gusti Amiruddin Hamid (?)
  19. Drs. Gusti Suryansyah Amiruddin, M.Si. Pangeran Ratu Keraton Landak (2000–sekarang)

    Kesimpulan:
    Kerajaan Landak adalah kerajaan Dayak Hindu, yang karena pengaruh Islam menjadi kerajaan LAUT
    ( Dayak Islam ); karena Islam masuk di Landak tahun
    1472. Dan bukan kerajaan Melayu.