Minggu, 01 Juni 2014

Battle of Badr was the first major battle between the Muslims against their enemies

Battle of Badr was the first major battle between the Muslims against their enemies

Muhammad at Badr.jpg

Battle of Badr (Arabic : غزوة بدر , ghazawāt badr ) , was the first major battle between the Muslims against their enemies . This war occurred on March 17, 624 AD or 17 Ramadan 2 AH . Small army of Muslims numbering 313 men fight face Quraish [ 1 ] of Mecca , amounting to 1,000 people . After fighting it out about two hours , the Muslims destroyed the defense Quraish , who then retreated in chaos .

Before this battle , the Muslims and the people of Mecca had been involved in a number of times small -scale armed conflict between the end of the initial 623 to 624 , and the armed conflict increasingly frequent. Nevertheless , the Battle of Badr was the first large -scale battle that occurred between the two powers . Muhammad was then led a small force in attempting interceptions against the Quraysh caravan had just returned from Sham , when he was struck by the presence of Quraish were much larger . Muhammad highly disciplined troops moving forward against a strong opponent 's defense position , and managed to destroy Mecca defense as well , killing several important Quraishi leaders including Amr alias is Abu Jahl bin Hisham .

For early Muslims , this battle is significant because it is the first evidence that they are actually likely to defeat their enemies in Mecca . Mecca when it is one of the richest and most powerful cities in Arabia the time of ignorance . The victory of the Muslims also to show other Arab tribes that a new power had risen in Arabia , as well as strengthening the authority of Muhammad as leaders of the various segments of society Medina previously often conflicting . Various Arab tribes converted to Islam and build alliances with the Muslims in Medina ; thus , the expansion of Islam began.

Quraysh defeat in the Battle of Badr cause they vowed to take revenge , and it was about a year later in the Battle of Uhud .
Battle of Badr

Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.

Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud.


Battle of Badr

Sabtu, 31 Mei 2014

Dayak tradition in welcoming guests and food dishes that are served

Dayak tradition in welcoming guests and food dishes that are served
Tradisi Dayak dalam menyambut tamu dan hidangan makanan yang disuguhkan


 Hidangan lama- Nasi tungkus , Ampahat Babotn
man Ai' cocok
( Ka Kanayatn nana ba TUAK )
di Kalimantan Barat

 Hidangan Dayak Iban Sarawak
Makanan tradisional sudah jarang dijumpai
( lihat makanan kalang )

Hidangan  pembuka- Tumpi, Poe man Lamang
sebelum makan besar- makan nasi dan lauk
( Masih bisa dijumpai di Kalbar tahun 2000-an )
20014



Dayak prominent figures from around the World

101
Dayak prominent figures from around the World


Book


Author: Masri Sareb Putra
https://www.facebook.com/masrisareb.masri?hc_location=timeline


Foto: KITINGAN: AGENDA BORNEO
dari buku: 101 TOKOH DAYAK

Atas saran beberapa rekan dan pakar (etnologi), dan setelah melalui pertimbangan dan diskusi panjang, akhirnya tokoh dalam buku ini tidak hanya dibatasi Dayak Indonesia, tapi juga Dayak di seluruh kepulauan Borneo. Argumennya: Dayak, sebagai penduduk asli Borneo, sudah lebih dulu ada dari keberadaan negara-negara yang batasnya memisah pulau yang sebenarnya tak terpisah itu. Selain itu, kiprah serta apa yang dilakukan Dayak di negeri tetangga boleh jadi menginspirasi dan melecut saudaranya juga.

Kunjungan muhibah, dan dibukanya pos lintas batas Tebedu-Entekong pada awal mula tujuannya menyatukan puak-puak Dayak yang masih bertali keluarga. Seminggu di Kuching, saya menelusuri gelar seni budaya Sarawak dan Sabah, juga Brunei, sama sebangun dengan saudaranya di Indonesia. Tokoh Dayak Bidayuh, Dato’ Peter Minos luar biasa yang dilakukannya, ia akan masuk menjadi salah satu tokoh dalam buku ini. Yang pertama, dan utama, Kitingan dulu.
***

Kitingan, Jeffrey Gapari dilahirkan di Kota Marudu. 
 
Tidak syak lagi, Kitingan adalah tokoh Dayak yang tak henti memperjuangkan agar Sabah yang sebagian besar penduduknya Dayak Kadazan itu maju dan tidak didera Malaysia dari berbagai bentuk penjajahan baru. Karena perjuangan itulah, ia kerap didakwa ingin memisahkan Sabah dari Malaysia.
 
Toh alumnus Harvard University itu bergeming. Ia yakin, apa yang dilakukannya semata membakar semangat orang Sabah dengan tuntutan demi terpenuhinya hak-hak Sabah. Namun, Operasi Talkak yang dilakukan pihak Kementerian Dalam Negeri dan Polis Diraja Malaysia (PDRM) dengan  alasan  untuk mempertahankan kedaulatan Negara, telah menahan tujuh tokoh, pertama di antaranya Kitingan.
 
Atas tuduhan ingin memisahkan diri dari Malaysia, Kitingan ditangkap dan dikurung selama 2 tahun 7 bulan dalam penjara Kamunting dan selanjutnya “dibuang” ke Negeri Sembilan.
 
Penangkapan Kitingan dan pembuangannya menjadi tajuk pemberitaan di Malaysia. Hal yang menarik, perjuangan Kitingan memasukkan 7 agenda yang disebut “Agenda Borneo”. Yakni sebuah agenda perjuangan rakyat Borneo di Sabah dan Sarawak. Kitingan memutuskan menggunakan State Reform Party (STAR), sebuah parti nasional yang diasaskan di Sarawak sebagai platform memperjuangkan Agenda Borneo melalui proses politik Malaysia.

Kitingan, Jeffrey


Drs Cornelis, MH


Oevang Oeray


 Tjilik Riwut


 Teras Narang SH



 Piet Pagau


Palaun Soeka

Dato’ Peter Monos

Jumat, 30 Mei 2014

"Ngasu" hunting with dogs and use mesh wire to catch it.

"Ngasu" hunting with dogs and use  mesh wire to catch it.
Borneo Nature provides abundant proteins.

Ngasu- berburu dengan anjing + jala kawat.
Alam Borneo menyediakan protein yang melimpah.




Deer



Pigs


In 2010s ( 2000 - 2014 )
Jungle- house of the animals- has
damaged  
by 'bipedal animals'

The firmness of a nation is not only measured by its armed forces-but the level of welfare.

The Firmness of a nation is not only measured by its armed forces-but the level of welfare.


Events in the construction of the tower by a Malaysian in Tanjung Datuk - Datuk cape early May 2014; and the Indonesian responded by building military bases is an emotional act.

If we speak of nationalism residents of West Kalimantan; jakarta-central government should pay attention to the welfare of the citizens of the border. because the citizens of  Indonesia and Eastern
Malaysia are the families of  Dayak Tribe as: (Iban, Bidayuh, Salako, Kenyah village etc).

For Development of a military base is not a wise solution; firmness of a nation is not only measured by its armed forces-but the level of welfare.




Peristiwa pembangunan menara di tanjung Datuk oleh malaysia awal bulan Mei 2014; dan direspon pihak Indonesia dengan membangun pangkalan militer merupakan tindakan yang emosional.

Jika kita berbicara nasionalisme warga Kalbar; seharusnya pemerintah pusat- jakarta memperhatikan kesejahteraan warga perbatasan. karena antara warga Indonesia dan malaysia timur adalah satu puak yaitu suku dayak ( Iban, Bidayuh, Salako, kenyah dusun dll ).

Pembanguanan pangkalan militer bukan solusi yang bijak; ketegasan suatu bangsa tidak hanya diukur dari angkatan bersenjatanya- melainkan tingkat KESEJAHTERAANNYA.



http://www.kapuas.co/2014/05/30/2364/inseden-tanjung-datok-komisi-i-perjuangkan-pembangunan-pangkalan-militer-temajuk/

The Dayak forces of Sintang Regency be standby and watchful.




"Bala Adat Dayak"
The 
Dayak
forces of  Sintang Regency be standby and watchful


Dayak warfare equipment



Dayak war preparations ceremony
Dayak war preparations ceremony
Sumber: Arbudin Jauharie
 

The traditional ceremony "Matah Bunga"-pick flowers, a traditional ritual For the safety of the child and his parents, in the village of Simba Sintang.

The traditional ceremony "Matah Bunga"-pick flowers, a traditional ritual For the safety of the child and his parents, in the village of Simba Sintang.

Upacara adat "Matah Bunga"- memetik bunga , sebuah ritual adat utk keselamatan anak dan orang tua nya, di Desa Simba Sintang.


Preparing for "Pick flowers"



"Pick flowers"



A traditional ritual For the safety of the child