Showing posts with label SEJARAH DUNIA. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH DUNIA. Show all posts

Sunday, December 13, 2015

The Dayak expedition In Peak of Carstensz - Jaya Wijaya Mountains of Papua

Kaum Dayak dalam expedisi Puncak Cartenz – 
Pegunungan Jaya Wijaya Papua
The Dayak  expedition In Peak of Carstensz - Jaya Wijaya Mountains of Papua

Kontribusi suku Dayak dalam expedisi Puncak Cartenz – Pegunungan Jaya Wijaya Papua
Ekspedisi Papua Selatan (1907) adalah percobaan pertama dari 3 rangkaian ekspedisi Belanda menuju pantai selatan dari puncak gunung yang diselimuti salju abadi di Papua Tengah. Ekspedisi ini diorganisasi di bawah bantuan Indisch Comité voor Wetenschappelijke Onderzoekingen dan Maatschappij ter Bevordering van het Natuurkundig Onderzoek der Nederlandsche Koloniën.

Puncak Cartenz - Jaya Wijaya


 Puncak Cartenz – Jaya Wijaya

Pimpinan ekspedisi adalah hakim dan biolog amatir Hendrikus Albertus Lorentz yang laporannya berisi tentang zoologi dan etnografi. Perwira AL Jan Willem van Nouhuys meneliti tentang geologi, topografi, dan meteorologi, dan dokter tentara Gerard Martinus Versteeg yang bertanggung jawab untuk pengawasan kesehatan dan antropologi, sementara “naturalis” J.M. Dumas juga ikut serta karena kecakapannya sebagai peserta ekspedisi penjelajahan sebelumnya di bagian Papua yang tak dapat dimasuki. Tentunya Lorentz dan Versteeg banyak membuat foto ekspedisi.
Let. C. Schultz memegang komando atas kawalan 45 militer, 60 NaPi terhukum yang dijadikan tukang angkut barang dan 60 orang Dayak dari Kalimantan, penghuni asli hutan yang bertugas sebagai pengangkut, pemasang jerat, penunjuk jalan, pembuat bivak dan tukang yang ahli. Dalam kelompok itu juga ada 3 mandor, pengawas orang hukuman, dan sejumlah staf ‘s Lands Plantentuin di Buitenzorg (sekarang Kebun Raya Bogor) yang ahli dalam keterampilan dan perawatan kumpulan spesimen botani.

Orang Dayak yang melakukan ekspedisi Puncak Cartenz
Orang Dayak yang melakukan ekspedisi 
Puncak Cartenz
 
Cartenz Piramid merupakan puncak tertinggi dari pegunungan jayawijaya yang terdapat di tanah papua. Puncak ini pertama kali di temukan oleh Jan Cartenz, ketika pelayarannya dia melihat sebuah puncak gunung yang tertutup oleh lapisan putih yang diduga adalah lapisan salju. Ada gunung salju di Khatulistiwa. Awalnya Jan Carstensz dianggap mengada-ada karena laporannya itu. Seiring waktu datanglah berita lain tentang adanya pegunungan salju di Amerika selatan, juga di tahun 1848 seorang misionaris melaporkan hal serupa di Afrika utara. Perhatian pun mulai tertuju pada puncak salju yang dilaporkan oleh Jan Carstensz. Lebih dari dua ratus lima puluh tahun lamanya, ekspedisi pendakian pertama baru dilakukan oleh H.A Lorentz di tahun1907. Ekpedisi selama 6 bulan tersebut mengalami kegagalan akibat keganasan alam Papua. Pada tahun 1913 Jan Cartenz seorang Naturalist asal Inggris A F R Wollaston berhasil mencapai hidung glasier di sisi Selatan Carstensz setelah melalui perjalanan melelahkan melewati hutan di pesisir selatan Papua. Ia membutuhkan 92 hari untuk mencapai 50km terakhir Kegagalan demi kegagalan terus dialami dalam pencapaian puncak Cartenz, akhirnya seoarang pendaki berkebangsaan Austria H. Herrer bersama beberapa rekannya berhasil mencapai puncak tertinggi di kawasan Oceania ini, Cartenz akhirnya ditaklukkan.
Tetapi dibalik gemilangnya keberhasilan pendakian cartenz pyramid, hanya sedikit orang yang mengetahui sebuah kenyataan bahwa peran suku dayak sebagai kaum perintis sangat vital. Suku asli Kalimantan ini adalah orang-orang yang diberi karunia dan anugrah oleh sang pencipta sebagai kaum-kaum yang memiliki tenaga kuat dan tahan terhadap siksaan alam. Mereka juga terkenal sebagai kaum perintis sungai, dengan pakaian seadanya mereka berhasil menghantarkan H. Herrer dan rekan-rekannya menuju puncak cartenz. Penghargaan yang diberikan atas besarnya jasa suku dayak dalam pendakian Cartenz piramind ditandai dengan menamai salah satu jalur pendakian nya yaitu Dayak Pass. Sebuah jalur untuk mereka yang pemberani.
Itulah sekarang menjadi Freeport.


Lembah Baliem ditemukan secara kebetulan pada tanggal 23 Juni 1938 oleh seorang peneliti asal Amerika, Richard Archbold, saat melakukan penerbangan di atas lembah dengan pesawat terbang airnya PBY Catalina 2 bernama Guba II. Archbold , pakar ilmu hewan dan filantropis, adalah cucu industrialis minyak yang kaya raya John Dustin Archbold. Richard disekolahkan di sekolah-sekolah privat dan mengikuti kuliah di Universitas Columbia tetapi tidak pernah mengakhiri studinya. Pada tahun tiga-puluhan dia membiayai dan memimpin tiga ekspedisi ilmu hayat ke New-Guinea.  

 Baliemvallei vanuit de lucht
 Lembah Baliem

Ekspedisinya yang ketiga dan yang paling ambisius dilaksanakan antara bulan April 1938 dan bulan Mai 1939 dan diarahkan  pada penelitian di sisi utara Pegunungan Nassau (kini Pegunungan Jayawijaya) di pegunungan tengah. Daerah penelusuran beliau  terbentang dari puncak gunung Wilhelmina (kini Puncak Trikora) sampai sungai Idenburg (anak sungai Memberano yang sekarang disebut Taritatu) dimana beliau melakukan penelitian terhadap vegetasi mulai dari tumbuh-tumbuhan di atas permukaanlaut sampai di daerah-daerah pada ketinggian 4000 meter. Selama perjalanannya beliau menggunakan pesawat terbang air yang dapat mendarat di atas permukaan danau dan sungai demi kelancaran penyediaan kebutuhan ekspedisi selain untuk melakukan pemotretan dari udara. Pada salah satu penerbangan pengintaian beliau melihat dari udara suatu kawasan dengan ladang-ladang pertanian dan kebun-kebun yang tersusun rapih disamping desa-desa. Setelah penemuan kawasan tersebut lembaga Museum of Natural History dari Amerika bersama dengan Archbold menyelenggarakan suatu ekspedisi ke kawasan ini yang merupakan ekspedisinya yang ke-empat. Ekspedisi ini mempunyai dua titik awal, yang satu adalah danau yang terletak berdekatan dengan sungai Hablifuri di Meervlakte yang kemudian dinamakan ‘Danau Archbold” dan kedua adalah “Danau Habbema”, yang terletak pada ketinggian 3225 meter di atas permukaan air dekat puncak Wilhelmina  sebelah barat Lembah Baliem. Untuk ekspedisi ini direkrut 73 orang Dayak dari Borneo sebagai pekerja pengangkat barang.

 Pendakian cartenz pyramid

Suku Dayak Pengangkut Barang



Sunday, June 1, 2014

Battle of Badr was the first major battle between the Muslims against their enemies

Battle of Badr was the first major battle between the Muslims against their enemies

Muhammad at Badr.jpg

Battle of Badr (Arabic : غزوة بدر , ghazawāt badr ) , was the first major battle between the Muslims against their enemies . This war occurred on March 17, 624 AD or 17 Ramadan 2 AH . Small army of Muslims numbering 313 men fight face Quraish [ 1 ] of Mecca , amounting to 1,000 people . After fighting it out about two hours , the Muslims destroyed the defense Quraish , who then retreated in chaos .

Before this battle , the Muslims and the people of Mecca had been involved in a number of times small -scale armed conflict between the end of the initial 623 to 624 , and the armed conflict increasingly frequent. Nevertheless , the Battle of Badr was the first large -scale battle that occurred between the two powers . Muhammad was then led a small force in attempting interceptions against the Quraysh caravan had just returned from Sham , when he was struck by the presence of Quraish were much larger . Muhammad highly disciplined troops moving forward against a strong opponent 's defense position , and managed to destroy Mecca defense as well , killing several important Quraishi leaders including Amr alias is Abu Jahl bin Hisham .

For early Muslims , this battle is significant because it is the first evidence that they are actually likely to defeat their enemies in Mecca . Mecca when it is one of the richest and most powerful cities in Arabia the time of ignorance . The victory of the Muslims also to show other Arab tribes that a new power had risen in Arabia , as well as strengthening the authority of Muhammad as leaders of the various segments of society Medina previously often conflicting . Various Arab tribes converted to Islam and build alliances with the Muslims in Medina ; thus , the expansion of Islam began.

Quraysh defeat in the Battle of Badr cause they vowed to take revenge , and it was about a year later in the Battle of Uhud .
Battle of Badr

Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.

Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud.


Battle of Badr

Friday, March 15, 2013

Origins of Hang Tuah Their DNA had been analysed and it is found that Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu etc. are not Malay, but Chinese (Islamic Chinese, just like the famous Admiral Cheng Ho).


Origins of Hang Tuah


Their DNA had been analysed and it is found that Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu etc. are not Malay,  but Chinese  (Islamic Chinese,  just like the famous Admiral Cheng Ho).

 





Findings of the team of scientists, archaeologist, historian and other technical staff from the United State, United Kingdom, Germany, Canada, Yemen & Russia.

The graves of Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu and their close friends have been found and  their skeletons had been analysed.  Their DNA had been analysed and it is found that Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu etc. are not Malay,  but Chinese  (Islamic Chinese,  just like the famous Admiral Cheng Ho). 
Malacca was a protectorate of China at that time,  and the Emperor of China sent the Sultan of Malacca “yellow gifts’ as a token of his sovereignty.  The 5 warrior brothers were believed to be sent to help protect Malacca and its Sultan from Siam (Thailand). 


The Sultans of Malacca was directly descended from the Parameswara from Indonesia who fled to Tamasek (Singapore) and then to Malacca.  The Malaccan Sulatanate family eventually spread and became the Sultanate of the other Malay states of Perak and Johor.  Therefore,  the Sultanate royal court and the aristocrats of the Malay sultanates are actually foreigners from Sumatra and Java.  Hang Tuah and his friends were the protectors of the Indonesian aristocratic Parameswara family who came to Malaya around 1400 AD and claimed sovereignty of the land. 



For confirmation please refer to:-

The Federal Association of Arc & Research of Michigan, USA





John Chow’s notes:-



“Hang”  is an unusual surname or name for a Malay.  It sounds like s corruption of a Chinese surname.



In fact,  Chinese names start with the surname first, and given names last.  Malay names start with the given names first,  and the father’s name last  (as in Ahmad bin Yusuf  which means “Ahmad,  the son of Yusuf”).  There is no surname in traditional Malay!  There is no surname to carry forward to the next generation.



We also need to examine the genealogy.  We know that Hang Tuah’s father was Hang Mamat.  Here,  we do not see a Malay name transmission.  We see a name being carried forward.  It is also noted that the placement of the name that is carried forward is in front.  This indicates that the surname is “Hang”.  It is the transmission of Chinese names. 



We also know that Hang Tuah’s son is Hang Nadim.  Again,  the name “Hang” is carried forward,  and yet again,  auspiciously in front,  as a Chinese name would be,  with the surname in front.  There is no indication of a Malay naming convention.



Note that Hang Nadim is also known as Si Awang (Malays would colloquially refer to others as “Si”.   “A”  or “Ah” is a common prefix for referring to others in Chinese.  Thus,  a person with surname Wang/Huang would be referred to as “Si Ah Wang” in Malaysia  - Mr. Ah Huang) by the Malays. 



Note that Hang Tuah’s mother is Dang Merdu.  “Dang” would be quite an unusual surname for a Malay also.  However,  “Dang”  or “Tang” is a common Chinese surname.  Note that the name “Dang”  is in front,  signifying that this is a Chinese naming convention,  yet again. 



Some Malays will argue that “Hang” is an honorific term (Humba) for those that serve the royal courts.  http://www.freewebs.com/suaraanum/0506b02.htm   This argument is not tenable.  Firstly,  where is the precedence in sultanates that preceded the Malaccan Sultanate?  Secondly,  where is the evidence that this is so in succeeding sultanates?  Thirdly,  where is the evidence that this practice was carried out in the sultanate of that time?  And has that Sultan given it to other court official and the royal family and their court officials and courtesans?  Where is the evidence?  Fourthly,  since Hang Tuah’s father is called Hang Mamat,  then he would have served the Sultan prior to Hang Tuah.  But there is no evidence this is so.  In fact,  there is evidence that Hang Tuah was a very poor kid in the village.  His father was not a high court official,  and he was not brought up in the court.  In addition,  since if Hang Tuah’s father Hang Mamat had already served as a high court official,  why must Hang Tuah be educated in Bahasa Melayu and court etiquette etc. again since the family is already indoctrinated in royal protocol? 



"Dalam perbendaharaan nama-nama orang Melayu semasa zaman kesultanan Melaayu Melaka, tiada terdapat nama-nama seumpama Hang Tuah, Hang Kasturi, Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu, ringkasnya ringkasan yang bermula dengan ¡®Hang¡¯. Sejarah juga telah mencatatkan nama-nama dari bangsa Cina yang bermula dengan Hang, Tan, Maa dan Lee. Ia bergantung kepada suku kaum atau asal-usul keturunan mereka dari wilayah tertentu dari China. Kemungkinan untuk mendakwa bahawa gelaran ¡®Hang¡¯ telah dianugerahkan oleh Raja-Raja Melayu juga tiada asasnya. "

The last sentence loosely translates as, "There's the possibility to propose that the term "Hang" conferred as a honorific by the Malay Kings also has no basis."







Moreover,  before the time of the 5 warriors with their close families during this close period of relationship with the Chinese,  there are no Malays with this name.



Note that the Chinese ‘princess’ who married the Sultan of Malacca was called “Hang Li Po”.  Here,  we not only see the same name,  but the name is also in front,  indicating a Chinese naming convention.  Hang Li Po brought along with her many servants and bodyguards from China who became the Baba and Nyonya's of Malacca  -  these folk exist to this day.  Chinese who do not know how to speak or write Chinese.  They have been totally ‘malayanised”.  Babas are people of Chinese descend who have been malayanised to such an extent that they wear Malay clothing, eat Malay food (with some Chinese food), speak Malay, and do not speak or write Chinese.  Malacca is famous for its Baba communities.  The only thing that is Chinese about them is that they are of Chinese ancestry.  If you say that Hang Tuah is a Malay in the same sense that these Chinese have been malayanised,  then you might be quite right.  However,  at this present moment,  we are arguing on the basis whether he was an ethnic Malay or an ethnic Chinese,  in the sense of blood ancestry. . 



There is an old Chinese tradition where warriors or servants in the royal palace were given or re-issued with surnames given by the emperor,  to signify that they belong to the emperor,  or to one of his offsprings.  Therefore,  it is possible that some very special bodyguards of the emperor or the royal family,  have the same surname to signify that they are a unit formed especially to protect that one owner.  Since the Princess Hang Li Po was given away in marriage to a strategic partner whose land the emperor wanted to ensure is safe and stable,  he assigned a group of able warriors to the Princess Li Po,  and he gave their families the same surname.  This is not an unusual practice for the Chinese emperor. 

As for Hang Kasturi having 4 characters in his name,  it is unusual,  but it does happen that some Chinese have only 2 characters,  and some have 4 characters in their names.  For example,  my paternal grandmother had only 2 characters in her name. 



See: http://www.anu.edu.au/asianstudies/ahcen/proudfoot/mmp/rtm/teachers.html





In the GENEALOGICAL TREE OF THE ROYAL FAMILIES OF PERAK STATE  (http://www.geocities.com/aizaris/genealogy),  you may note 2 things:-
1) Evidence that traditional Malay naming conventions do not carry the name of the father forward.
2) There is no surname to carry forward
3) Neither name nor surname are placed in front.
4) The genealogy of the early part of the lineage tree makes reference to Chinese ancestry:-  “Putera Chedra China”   “Puetra China”   and then later  “Paduka Sri Cina”  


This proves there has been early Chinese links in the Malay/Indonesian races and aristocratic lineages.



One Malay argued that Hang Tuah was already in the service of the Sultan before Hang Li Po was sent to Malacca.  However,  there is not evidence of this.  A probable reference is the semi folklore Hikayat Hang Tuahwhicjh is not very reliable as it has many contradiction to Sejarah Melayu.  . From the Ming Dynasty chronicles does not mention Hang Li Po or Hang Tuah but did mention the trip of Sultan Mansur Shah.  See: http://thepenangfileb.bravepages.com/histr36.htm



It is even possible that Hang Li Po was a minor “princess”  (ie.  only a daughter of a court official) who the emperor ordered to be given away to marry a vassal sate in order to ensue loyalty and close diplomatic relation.  The whole event was blown up to given the foreign king a big ego boost that the great Chinese overlord gave him his own daughter in marriage!  (It is doubtful that the conservative Chinese emperors would give their daughters away to somebody living in a foreign land very far away).  It has happened before in the history of China.  For example,  the Tibetans think that their King Sonten Gampo forced the Chinese emperor to give away his daughter in marriage in order to make peace with great big powerful Tibet.  The story from the Chinese side is that the Chinese emperor tricked the egotistical Tibetan king into believing that the palace maid was a princess and sent her off with her retinue and gifts.  It was a ‘diplomatic trick”.  Therefore,  it is possible that the Chinese court repeated the trick on Sultan Mansur Shah,  and gave him a “Chinese princess” with many gifts for the Sultan.  In the meantime,  he sent some warriors to the Sultanate to help ensure peace, safety and stability in the region – all in China’s national interests.  Protect your friends and your interests will be protected.  Or it could have been a ploy used by the Chinese emperor and the Malaccan sultan to use this marriage of a “princess” to deter the Siamese kings from encroaching on Malaccan territory.   Siam would not dare to invade Malacca whose sultan is a son in law of the mighty Chinese empire!



 


Temuan tim ilmuwan, arkeolog, sejarawan dan staf teknis lainnya dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, Yaman dan Rusia.
Makam Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu, dan teman-teman dekat mereka telah ditemukan dan kerangka mereka telah dianalisis. DNA mereka telah dianalisis dan ditemukan bahwa Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu dll tidak Melayu, namun Cina (Cina Islam, seperti Laksamana Cheng Ho yang terkenal). Malaka adalah protektorat dari Cina pada waktu itu, dan Kaisar Cina mengirimkan Sultan Malaka "hadiah kuning 'sebagai tanda kedaulatan-Nya. Para prajurit 5 bersaudara itu diyakini dikirim untuk membantu melindungi Malaka dan Sultan nya dari Siam (Thailand).Sultan Malaka adalah keturunan langsung dari Parameswara dari Indonesia yang melarikan diri ke Tamasek (Singapura) dan kemudian ke Malaka. Keluarga Sulatanate Malaka akhirnya menyebar dan menjadi Kesultanan negara-negara Melayu lainnya Perak dan Johor. Oleh karena itu, pengadilan kerajaan dan kesultanan aristokrat dari kesultanan Melayu sebenarnya asing dari Sumatera dan Jawa. Hang Tuah dan teman-temannya adalah pelindung dari keluarga aristokrat Parameswara Indonesia yang datang ke Malaya sekitar 1400 AD dan mengklaim kedaulatan tanah.Untuk konfirmasi silakan lihat: -Asosiasi Federal Arc & Penelitian Michigan, USACatatan John Chow: -"Hang" adalah nama yang tidak biasa atau nama untuk Melayu. Kedengarannya seperti korupsi s dari nama Tionghoa.Bahkan, nama Cina mulai dengan nama pertama, dan diberi nama terakhir. Nama-nama Melayu mulai dengan nama yang diberikan terlebih dahulu, dan ayah nama terakhir (seperti pada Ahmad bin Yusuf yang berarti "Ahmad, anak Yusuf"). Tidak ada nama dalam bahasa Melayu tradisional! Tidak ada nama untuk meneruskan ke generasi berikutnya.
Kita juga perlu memeriksa silsilah. Kita tahu bahwa ayah Hang Tuah adalah menggantung Mamat. Di sini, kita tidak melihat transmisi nama Melayu. Kita melihat nama yang dilakukan ke depan. Hal ini juga mencatat bahwa penempatan nama yang dibawa ke depan ada di depan. Hal ini menunjukkan bahwa nama adalah "Hang". Ini adalah transmisi dari nama Tionghoa.
Kita juga tahu bahwa anak Hang Tuah adalah Hang Nadim. Sekali lagi, nama "Hang" dilakukan ke depan, dan sekali lagi, auspiciously di depan, sebagai nama Cina akan, dengan nama di depan. Tidak ada indikasi konvensi penamaan Melayu.
Perhatikan bahwa Hang Nadim juga dikenal sebagai Si Awang (Melayu bahasa sehari-hari akan merujuk kepada orang lain sebagai "Si". "A" atau "Ah" adalah awalan yang umum untuk merujuk kepada orang lain dalam bahasa Cina Dengan demikian,. Seseorang dengan nama Wang / Huang akan disebut sebagai "Si Ah Wang" di Malaysia - Mr Ah Huang) oleh Melayu.
Perhatikan bahwa ibu Hang Tuah adalah Dang Merdu. "Dang" akan cukup nama yang tidak biasa bagi orang Melayu juga. Namun, "Dang" atau "Tang" adalah nama Cina umum. Perhatikan bahwa nama "Dang" di depan, menandakan bahwa ini adalah konvensi penamaan Cina, lagi.
Beberapa Melayu akan berpendapat bahwa "Hang" adalah istilah kehormatan (Humba) bagi mereka yang melayani kerajaan. http://www.freewebs.com/suaraanum/0506b02.htm Argumen ini tidak dapat dipertahankan. Pertama, di mana adalah diutamakan dalam kesultanan yang mendahului Kesultanan Malaka? Kedua, di mana merupakan bukti bahwa hal ini sehingga dalam berikutnya kesultanan? Ketiga, di mana merupakan bukti bahwa praktek ini dilakukan dalam kesultanan waktu itu? Dan memiliki bahwa Sultan memberikannya kepada petugas pengadilan lainnya dan keluarga kerajaan dan mereka pejabat pengadilan dan pelacur? Mana buktinya? Keempat, karena ayah Hang Tuah yang disebut menggantung Mamat, maka ia akan melayani Sultan sebelum ke Hang Tuah. Tapi tidak ada bukti ini begitu. Bahkan, ada bukti bahwa Hang Tuah adalah seorang anak yang sangat miskin di desa. Ayahnya bukanlah seorang pejabat pengadilan tinggi, dan ia tidak dibesarkan di pengadilan. Selain itu, karena jika ayah Hang Tuah Hang Mamat sudah menjabat sebagai seorang pejabat pengadilan tinggi, mengapa harus Hang Tuah dididik dalam bahasa Melayu dan lain-lain pengadilan etika lagi karena keluarga sudah diindoktrinasi di royal protokol?
"Dalam, perbendaharaan NAMA-nama orangutan Melayu semasa Zaman Kesultanan Melaka Melaayu, tiada terdapat nama-NAMA seumpama Hang Tuah, Hang Kasturi, Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu, ringkasnya RINGKASAN Yang bermula Artikel Baru ¡® ¡¯ menggantung Sejarah JUGA. Telah mencatatkan NAMA-nama bahasa Dari Bangsa Cina Yang bermula Artikel Baru Hang, Tan, Maa dan Lee. Ia bergantung kepada suku kaum atau asal-usul keturunan mereka bahasa Dari wilayah tertentu bahasa Dari Cina. Kemungkinan untuk mendakwa bahawa gelaran ¡® ¡¯ menggantung telah dianugerahkan oleh Raja-Raja Melayu JUGA tiada asasnya. Kalimat terakhir longgar diterjemahkan sebagai, "Ada kemungkinan untuk mengusulkan bahwa istilah" Hang "diberikan sebagai kehormatan oleh Raja Melayu juga tidak berdasar."

 
Selain itu, sebelum waktu 5 prajurit dengan keluarga dekat mereka selama periode keeratan hubungan dengan China, tidak ada orang Melayu dengan nama ini.Perhatikan bahwa Cina 'putri' yang menikah dengan Sultan Malaka disebut "Hang Li Po". Di sini, kita tidak hanya melihat nama yang sama, tetapi nama juga di depan, menunjukkan konvensi penamaan Cina. Hang Li Po dibawa bersama dengan banyak pelayan dan pengawal dari China yang menjadi Baba dan Nyonya yang Malaka - rakyat ini ada sampai hari ini. Cina yang tidak tahu bagaimana untuk berbicara atau menulis dalam bahasa Cina. Mereka telah benar-benar 'malayanised ". Baba adalah orang-orang Tionghoa yang telah turun malayanised sedemikian rupa sehingga mereka mengenakan pakaian Melayu, makan makanan Melayu (dengan beberapa makanan Cina), bahasa Melayu, dan tidak berbicara atau menulis dalam bahasa Cina. Malaka terkenal bagi masyarakat Baba nya. Satu-satunya hal yang Cina tentang mereka adalah bahwa mereka adalah keturunan Cina. Jika Anda mengatakan bahwa Hang Tuah adalah Melayu dalam arti yang sama bahwa Cina telah malayanised, maka Anda mungkin benar. Namun, pada saat sekarang ini, kita berdebat atas dasar apakah ia adalah seorang etnis Melayu atau etnis Cina, dalam arti keturunan darah. .Ada sebuah tradisi Cina kuno di mana prajurit atau pelayan di istana kerajaan diberikan atau diterbitkan kembali dengan nama panggilan yang diberikan oleh kaisar, untuk menandakan bahwa mereka milik kaisar, atau salah satu dari keturunan nya. Oleh karena itu, adalah mungkin bahwa beberapa pengawal yang sangat khusus dari kaisar atau keluarga kerajaan, memiliki nama yang sama untuk menandakan bahwa mereka adalah unit yang dibentuk terutama untuk melindungi satu pemilik. Karena Putri Hang Li Po diberikan menikah dengan mitra strategis yang tanahnya kaisar ingin memastikan aman dan stabil, ia menugaskan sekelompok prajurit mampu Putri Li Po, dan ia memberikan keluarga mereka dengan nama yang sama. Ini bukan praktik yang tidak biasa untuk kaisar Cina.Seperti untuk Hang Kasturi memiliki 4 karakter dalam nama-Nya, tidak biasa, tapi itu tidak terjadi bahwa beberapa orang Cina hanya memiliki 2 karakter, dan beberapa memiliki 4 karakter dalam nama mereka. Misalnya, nenek saya punya hanya 2 karakter dalam namanya.Lihat: http://www.anu.edu.au/asianstudies/ahcen/proudfoot/mmp/rtm/teachers.html
Dalam pohon silsilah DARI KELUARGA ROYAL DARI PERAK

(http://www.geocities.com/aizaris/genealogy), Anda dapat mencatat 2 hal: -
1) Bukti bahwa konvensi penamaan tradisional Melayu tidak membawa nama ayah ke depan.2) Tidak ada nama untuk meneruskan3) Baik nama maupun nama ditempatkan di depan.4) Silsilah bagian awal dari pohon silsilah mengacu pada keturunan Cina: - "Putera Chedra China" "Puetra China" dan kemudian "Paduka Sri Cina"
Ini membuktikan telah terjadi link Tionghoa di awal balapan Melayu / Indonesia dan garis keturunan bangsawan.
Satu Melayu berpendapat bahwa Hang Tuah sudah dalam pelayanan Sultan sebelum Hang Li Po dikirim ke Malaka. Namun, tidak ada bukti tentang hal ini. Sebuah referensi mungkin adalah cerita rakyat setengah Hikayat Hang Tuah, whicjh tidak terlalu diandalkan karena memiliki banyak kontradiksi Sejarah Melayu. . Dari Dinasti Ming sejarah tidak menyebutkan Hang Li Po atau Hang Tuah tetapi menyebutkan perjalanan Shah Mansur Sultan. Lihat: http://thepenangfileb.bravepages.com/histr36.htm
Hal ini bahkan mungkin bahwa Hang Li Po masih di bawah umur "putri" (mis. hanya putri seorang pejabat pengadilan) yang kaisar diperintahkan untuk diberikan menikah dengan sate bawahan untuk terjadi loyalitas dan menutup hubungan diplomatik. Seluruh acara diledakkan untuk diberikan raja asing dorongan ego besar bahwa Cina yang besar tuan memberinya putrinya sendiri dalam pernikahan! (Diragukan bahwa kaisar Cina konservatif akan memberikan anak perempuan mereka pergi untuk hidup seseorang di negeri asing yang sangat jauh). Ini telah terjadi sebelumnya dalam sejarah Cina. Misalnya, orang-orang Tibet berpikir bahwa mereka Raja Gampo Sonten memaksa kaisar Cina untuk memberikan putrinya dalam pernikahan untuk membuat perdamaian dengan besar Tibet kuat yang besar. Cerita dari pihak Cina adalah bahwa kaisar Cina ditipu Tibet raja egois menjadi percaya bahwa pelayan istana adalah putri dan mengirimnya off dengan rombongan dan hadiah. Itu adalah trik 'diplomatik ". Oleh karena itu, adalah mungkin bahwa pengadilan Cina mengulangi trik di Shah Mansur Sultan, dan memberinya "putri Cina" dengan banyak hadiah untuk Sultan. Sementara itu, ia mengirim beberapa prajurit ke Kesultanan untuk membantu menjamin perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan itu - semua dalam kepentingan nasional China. Melindungi teman dan minat Anda akan dilindungi. Atau bisa menjadi taktik yang digunakan oleh Kaisar Cina dan sultan Malaka untuk menggunakan pernikahan dari "putri" untuk mencegah raja Siam menjarah wilayah Malaka. Siam tidak akan berani menyerang Malaka yang sultan adalah menantu kekaisaran Cina perkasa!



Makam Hang Tuah


Footnote:-

The 5 sworn brothers who studied and practised Silat together are:-

Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu and Hang Kasturi. 



Further references:-



Serajah Melayu – History of the Malay Peninsula

http://www.sabrizain.demon.co.uk/malaya/parames.htm



Parameswara and the founding of the Sultanate of Malacca    by John Chow





This is my limited understanding of this subject matter.


http://www.yellowbamboohk.com/yellowbamboo/origins%20of%20hang%20tuah%20by%20john%20chow.html



Friday, January 4, 2013

Kemerdekaan Singapura hasil bentrok ras dengan Malaysia




Kemerdekaan Singapura hasil bentrok ras dengan Malaysia

 

(2013 ) 47 tahun lalu Singapura memisahkan diri dari Malaysia dan menjadi sebuah negara berdaulat. Siapa sangka, kemerdekaan negeri kota yang nantinya menjadi salah satu macan Asia ini merupakan hasil dari bentrok antar ras, terutama antara etnis China dengan Melayu, seperti dinarasikan ulang oleh BBC pada 15 Juli 2009.

Dahulu, Singapura merupakan wilayah jajahan Kerajaan Sriwijaya. Pada abad 7-12 Masehi, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Temasek. Kawasan ini ramai karena wilayahnya strategis. Setelah kekuasaan Sriwijaya memudar, Kesultanan Johor segera mencaploknya dan berkuasa cukup lama, sejak abad 16 hingga 19.

Kota ini berhasil memosisikan diri sebagai daerah perdagangan netral, meski bangsa Eropa seperti Portugis dan Spanyol mulai berdatangan ke wilayah Asia Tenggara berdagang rempah-rempah. Nasib Singapura mulai berubah ketika gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles membuat perjanjian dengan Sultan Hussein Shah, penguasa pulau kecil itu. Negeri Ratu Elizabeth ini membangun pangkalan dan cikal bakal kota Singapura modern.

Pada Perang Dunia Kedua, Jepang mengalahkan Inggris dan menguasai Singapura. Pada saat itu, bibit-bibit pertikaian antar ras mulai muncul. Dari total populasi, imigran China mencapai separuh lebih dan sering berebut lahan pekerjaan dengan orang Melayu yang merasa penduduk asli.

Di akhir perang Jepang kalah. Inggris kembali ke wilayah itu dan memberi status Singapura otonomi khusus seperti Malaysia.

Pada pemilihan umum 1959, Lee Kuan Yew, politikus berpengaruh negara kota ini terpilih sebagai perdana menteri. Menjadi negara persemakmuran Inggris ternyata tidak segera membawa kebaikan. Pertentangan ras, ekonomi, dan ideologi, terutama karena banyak pegiat komunis dari China berupaya merebut Singapura, membuat negeri mungil ini kerap dilanda kerusuhan selama periode 1950-an.

Melihat gelagat Inggris mulai abai mengurus Singapura, pemimpin Negeri Singa itu memilih merapat dengan negara tetangganya.

Pada 31 Agustus 1963, Singapura resmi bergabung dengan Federasi Malaysia, bersama Sabah dan Serawak.

Untung tidak dapat ditolak, pemimpin Malaysia rupanya menerapkan kebijakan pemberian hak khusus bagi bumiputera, yaitu etnis Melayu. Prasangka etnis juga merebak dengan pemerintahan di Kuala Lumpur kerap mendiskriminasi warga etnis Tionghoa.

Akibatnya, Singapura kembali terjebak dalam kerusuhan demi kerusuhan, paling parah terjadi pada 1964. Merasa negara kecil itu hanya bisa menjadi biang rusuh, parlemen Malaysia pada 1965 membuat keputusan mengejutkan.

Dengan suara 126 banding 0, seluruh anggota dewan perwakilan rakyat sepakat mengeluarkan Singapura dari Federasi Malaysia.
Singapura akhirnya menjadi satu-satunya negara di dunia yang merdeka bukan karena keinginan sendiri. Lee Kuan Yew, meski berupaya optimis, menghadapi masalah mahaberat saat menangani negara itu selepas merdeka. Pengangguran tinggi, pemukiman kumuh hampir di seluruh pulau, dan tentu saja, tidak ada sumber daya alam untuk mengisi kas negara.

Dengan tangan besi, dia rombak Singapura menjadi salah satu kota disegani. Korupsi dihilangkan, pembangunan digalakkan, dan kebersihan amat dijaga. Lee Kuan Yew ingin investor asing dan para pedagang betah transit di negara itu.

Kini, negara yang luasnya hanya seperempat DKI Jakarta itu menjadi salah satu negara paling makmur dan maju di dunia.
Data 2011 menunjukkan Singapura memiliki jumlah penduduk 4,8 juta jiwa.
Pendapatan nasional per kapitanya US$ 41.430 atau setara dengan Rp 373 juta.
Sedangkan tingkat pengangguran negara ini hanya dua persen.

Sejarah

Sebelum abad ke-19

Catatan pertama permukiman di Singapura berasal dari abad ke-2 Masehi.[34] Pulau ini merupakan pos luar Kerajaan Sriwijaya di Sumatera yang memberi nama Temasek dalam bahasa Jawa yang berarti 'kota laut'. Antara abad ke-16 dan awal abad ke-19, Singapura menjadi bagian dari Kesultanan Johor. Tahun 1613, perompak Portugis membakar permukiman di mulut Sungai Singapura dan pulau ini menjadi tidak terlalu diperhatikan sampai dua abad selanjutnya.

Kekuasaan kolonial Britania

Pada 28 Januari 1819, Thomas Stamford Raffles mendarat di pulau utama di Singapura. Setelah melihat potensinya sebagai pos dagan strategis untuk kawasan Asia Tenggara, Raffles menandatangani perjanjian dengan Sultan Hussein Shah atas nama Perusahaan Dagang Hindia Timur Britania pada tanggal 6 Februari 1819 untuk mengembangkan bagian selatan Singapura sebagai pos dagang dan permukiman Britania.[35]
Hingga 1824, Singapura masih menjadi teritori yang dikuasai seorang sultan Melayu. Kemudian, teritori ini menjadi koloni Britania pada 2 Agustus 1824 ketika John Crawfurd, penduduk kedua Singapura, secara resmi menjadikan keseluruhan pulau sebagai kekuasaan Britania dengan menandatangani perjanjian dengan Sultan Hussein Shah yang menyatakan Sultan dan Temenggong menyerahkannya kepada Perusahaan Dagang Hindia Timur Britania. Tahun 1826, Singapura menjadi bagian dari Negeri-Negeri Selat, sebuah koloni Britania. Tahun 1869, 100.000 orang tinggal di pulau ini.[35]

Periode Perang Dunia II dan pascaperang

Tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang berparade melintasi pusat kota Singapura setelah penyerahan Britania.
Selama Perang Dunia II, Angkatan Darat Kekaisaran Jepang menjajah Malaya, berakhir pada Pertempuran Singapura. Pihak Britania dikalahkan dalam enam hari dan menyerahkan benteng yang seharusnya tidak terkalahkan kepada Jenderal Tomoyuki Yamashita pada 15 Februari 1942. Penyerahan ini disebut oleh Perdana Menteri Britania Raya, Winston Churchill sebagai "bencana terburuk dan penyerahan terbesar dalam sejarah Britania Raya".[36] Pembantaian Sook Ching terhadap etnis Cina setelah Singapura ditaklukkan memakan korban antara 5.000 dan 25.000 jiwa.[37] Jepang mengganti nama Singapura menjadi Shōnantō (昭南島?), dari kata-kata Jepang "Shōwa no jidai ni eta minami no shima" ("和の時代に得た"?), atau "pulau selatan yang diperoleh pada periode Shōwa", dan mendudukinya sampai Britania menguasai kembali pulau ini pada 12 September 1945, satu bulan setelah penyerahan Jepang.
Setelah perang, pemerintah Britania Raya mengizinkan Singapura mengadakan pemilihan umum pertamanya tahun 1955 yang dimenangkan oleh kandidat pro-kemerdekaan, David Marshall, ketua partai Front Buruh yang kemudian menjadi Menteri Utama.
Demi menuntut pemerintahan sendiri secara penuh, Marshall memimpin delegasi ke London, tetapi ditolak oleh Britania. Ia mengundurkan diri setelah kembali ke Singapura dan digantikan oleh Lim Yew Hock, yang kebijakannya kemudian meyakinkan pihak Britania. Singapura diberi hak pemerintahan internal sendiri secara penuh dengan perdana menteri dan kabinetnya mengawasi segala urusan pemerintah kecuali pertahanan dan urusan luar negeri.
Pemilihan diadkaan pada 30 Mei 1959 dengan Partai Aksi Rakyat memenangkan pemilu. Singapura langsung menjadi negara dengan pemerintahan sendiri di dalam Persemakmuran pada 3 Juni 1959, dan Lee Kuan Yew disumpah sebagai perdana menteri pertama Singapura.[38] Kemudian Gubernur Singapura, Sir William Almond Codrington Goode, menjabat sebagai Yang di-Pertuan Negara pertama hingga 3 Desember 1959. Ia digantikan oleh Yusof bin Ishak, kemudian Presiden Singapura pertama.
Singapura mengumumkan kemerdekaannya dari Britania secara unilateral pada Agustus 1963,[39] sebelum bergabung dengan Federasi Malaysia pada September bersama dengan Malaya, Sabah dan Sarawak sebagai hasil dari Referendum Penggabungan Singapura 1962. Singapura dikeluarkan dari Federasi dua tahun setelah konflik ideologi yang memanas antara pemerintah PAP Singapura dan pemerintah federal di Kuala Lumpur.

Kemerdekaan (sejak 1965)

Singapura secara resmi memperoleh kedaulatan pada 9 Agustus 1965.[8] Yusof bin Ishak disumpah sebagai presiden, dan Lee Kuan Yew menjadi perdana menteri pertama Republik Singapura.
Tahun 1990, Goh Chok Tong menggantikan Lee sebagai perdana menteri. Selama masa pemerintahannya, negara ini menghadapi Krisis Keuangan Asia 1997, wabah SARS, dan ancaman teroris oleh Jemaah Islamiyah. Tahun 2004, Lee Hsien Loong, putra sulung Lee Kuan Yew, menjadi perdana menteri Singapura.[40] Di antara keputusannya yang terkenal adalah rencana membuka kasino untuk mendorong pariwisata.[41]

Pemerintahan dan politik

Singapura adalah sebuah republik parlementer dengan sistem pemerintahan parlementer unikameral] Westminster yang mewakili berbagai konstituensi. Konstitusi Singapura menetapkan demokrasi perwakilan sebagai sistem politik negara ini.[42] Partai Aksi Rakyat (PAP) mendominasi proses politik dan telah memenangkan kekuasaan atas Parlemen di setiap pemilihan sejak menjadi pemerintahan sendiri tahun 1959.[43] Freedom House menyebut Singapura sebagai "sebagian bebas" dalam "laporan Freedom in the World" dan The Economist menempatkan Singapura pada tingkat "rezim hibrida", ketiga dari empat peringkat dalam "Indeks Demokrasi".
Tampuk kekuasaan eksekutif dipegang oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri. Presiden Singapura, secara historis merupakan jabatan seremonial, diberikan hak veto tahun 1991 untuk beberapa keputusan kunci seperti pemakaian cadangan nasional dan penunjukan jabatan yudisial. Meski jabatan ini dipilih melalui pemilu rakyat, hanya pemilu 1993 yang pernah diselenggarakan sampai saat ini. Cabang legislatif pemerintah dipegang oleh parlemen.[44]
Anggota parlemen (MP) terdiri dari anggota terpilih, non-konstituensi dan dicalonkan. Mayoritas MP terpilih melalui pemilihan umum dengan sistem pertama-melewati-pos dan mewakili Anggota Tunggal atau Konsituensi Perwakilan Kelompok (GRC).[46]
Singapura beberapa kali masuk sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah di dunia oleh Transparency International.[47][48]
Meski hukum di Singapura diwariskan dari hukum Inggris dan India Britania, dan meliputi banyak elemen hukum umum Inggris, dalam beberapa kasus hukum ini keluar dari warisan tersebut sejak kemerdekaan. Contohnya adalah pengadilan oleh juri dihapuskan.
Singapura memiliki hukum dan penalti yang meliputi hukuman korporal yudisial dalam bentuk pencambukan untuk pelanggaran seperti pemerkosaan, kekerasan, kerusuhan, penggunaan obat-obatan terlarang, vandalisme properti, dan sejumlah pelanggaran imigrasi.[49][50] Singapura juga memiliki hukuman mati wajib untuk pembunuhan tingkat pertama, penyelundupan obat-obatan terlarang, dan pelanggaran senjata api.[51] Amnesty International mengatakan bahwa "serangkaian klausa dalam Undang-Undang Penyalahgunaan Obat-Obatan Terlarang dan Undang-Undang Pelanggaran Senjata Api berisi dugaan bersalah yang bertentangan dengan hak dianggap tidak bersalah hingga terbukti bersalah dan mengikis hak pengadilan yang adil", dan memperkirakan bahwa Singapura memiliki "kemungkinan tingkat eksekusi tertinggi di dunia bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya".[52] Pemerintah menyatakan bahwa Singapura memiliki hak berdaulat untuk menentukan sistem yudisialnya dan memaksakan sesuatu yang dianggap sebagai hukuman yang pantas.[53] Pemerintah memiliki sengketa dalam beberapa poin laporan Amnesty. Mereka berkata bahwa dalam lima tahun sampai 2004, 101 warga Singapura dan 37 warga asing telah dieksekusi, semuanya kecuali 28 orang disebabkan oleh pelanggaran obat-obatan terlarang.[53] Amnesty menyebutkan 408 eksekusi antara 1991 dan 2003 dari pemerintah dan sumber lain dari jumlah penduduk sebanyak empat juta jiwa.[52]
Sebuah survei oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC) mengenai eksekutif bisnis ekspatriat bulan September 2008 menemukan bahwa orang-orang yang disurvei menganggap Hong Kong dan Singapura memiliki sistem yudisial terbaik di Asia, dengan Indonesia dan Vietnam yang terburuk: sistem yudisial Hong Kong diberi skor 1.45 dalam skala (0 untuk terbaik dan 10 untuk terburuk); Singapura dengan skor 1.92, diikuti Jepang (3.50), Korea Selatan (4.62), Taiwan (4.93), Filipina (6.10), Malaysia (6.47), India (6.50), Thailand (7.00), China (7.25), Vietnam (8.10) dan Indonesia (8.26).[54][55]
PERC memberi komentar bahwa karena survei ini melibatkan eksekutif bisnis ekspatriat daripada aktivis politik, kriteria seperti kontrak dan perlindungan IPR lebih ditekankan: "persepsi umum ekspatriat adalah bahwa politik setempat tidak memenuhi cara hukum perdagangan dan kriminal dilaksanakan". PERC mencatat bahwa nilai teratas Singapura dalam survei tersebut tidak termasuk aktivis politik yang mengkritik Partai Aksi Rakyat (PAP) karena menggunakan pengadilan untuk membungkam kritikus.
Pada November 2010, sebuah pengadilan Singapura memberi hukuman penjara enam minggu kepada penulis Britania, Alan Sheldrake atas penghinaan terhadap pengadilan dalam bukunya, "Once A Jolly Hangman: Singapore Justice In The Dock", berdasarkan wawancara dengan bekas eksekutor pengadilan dan kritik terhadap hukuman mati di negara ini[


=================================
(2013) 47 years ago Singapore broke away from Malaysia and became a sovereign state. Who would have thought, independence of city land that would become one of the Asian tiger is the result of a clash between races, especially between ethnic Chinese and Malay, as narrated by the BBC back in July 15, 2009.
Long ago, Singapore was a colony of Sriwijaya. In the 7-12 century AD, more people know him as Temasek. This area is crowded because of the strategic territory. After Srivijaya power fades, the Sultanate of Johor immediately annexed and ruled for a long time, since the 16th century to 19.
The city managed to position itself as a neutral trading regions, although European nations such as Portugal and Spain began arriving in Southeast Asia traded spices. Singapore fate began to change when the governor of British General Thomas Stamford Raffles made an agreement with Sultan Hussein Shah, the ruler of the small island. Queen Elizabeth's country build bases and cities forerunner of modern Singapore.
In World War II, Japan beat England and Singapore dominate. At that time, the seeds of dissension between the races began to appear. Of the total population, reaching more than half of Chinese immigrants and often scramble to land a job with the Malays who are the original inhabitants.
At the end of the war Japan was defeated. England returned to the region and give special autonomy status of Singapore as Malaysia.
In the 1959 general election, Lee Kuan Yew, the city-state's influential politician was elected prime minister. Being a British commonwealth countries did not immediately bring goodness. Conflicts of race, economics, and ideology, especially as many communist activists from China attempted to Singapore, making this tiny country is often hit by riots during the period of the 1950s.
Seeing England began to neglect taking care of Singapore, lion country leaders choose docked with its neighbors.
On August 31, 1963, Singapore officially joined the Federation of Malaysia, with Sabah and Sarawak.
Good thing can not be denied, the leader of Malaysia apparently implemented a policy granting special rights for bumiputera, the ethnic Malays. Ethnic prejudice is also rife with government in Kuala Lumpur often discriminate against ethnic Chinese citizens.
As a result, Singapore again trapped in a riot after riot, most severe in 1964. Feeling a small country that can only be a source of violent, the Malaysian parliament in 1965 made the surprising decision.
By a vote of 126 vs 0, all members of parliament agreed to pull out of Singapore from the Federation of Malaysia.
Singapore became the only country in the world that freedom is not because of the desire itself. Lee Kuan Yew, although attempted optimistic mahaberat face problems when dealing with the country after independence. High unemployment, slums almost the entire island, and of course, no natural resources to fill state coffers.
With an iron fist, he Rombak Singapore became one of the city respected. Corruption is eliminated, promoted development and cleanliness very guarded. Lee Kuan Yew wants foreign investors and traders like transit in the country.
Now, the state covers only a quarter of Jakarta's become one of the most prosperous and advanced country in the world.Data 2011 shows that Singapore has a population of 4.8 million inhabitants.National income per capita is U.S. $ 41,430 or equivalent to Rp 373 million.
While the state's unemployment rate is only two percent.

The first record of settlement in Singapore are from the 2nd century AD. [34] The island is an outpost of Sriwijaya in Sumatra, which gave the name of Temasek in the Java language, which means 'sea town'. Between the 16th century and beginning of the 19th century, Singapore became part of the Sultanate of Johor. In 1613, the Portuguese pirates burned the settlement at the mouth of the Singapore River and the island became less unnoticed until the next two centuries.British colonial ruleThe main article for this section are: Founding of modern SingaporeSee also: Foreign Affairs Singapore Strait
On January 28, 1819, Thomas Stamford Raffles landed on the main island of Singapore. After seeing its potential as a strategic mixes heading to Southeast Asia, Raffles signed a treaty with Sultan Hussein Shah on behalf of the British East India Trading Company on February 6, 1819 to develop the southern part of Singapore as a British trading post and settlement. [35]
Until 1824, Singapore was still a territory controlled by a Malay sultan. Then, this territory became a British colony on August 2, 1824 when John Crawfurd, the second resident Singapore, officially made the whole island as British rule by signing an agreement with Sultan Hussein Shah Sultan and Temenggong stating handed it to the British East India Trading Company. In 1826, Singapore became part of the Straits of Foreign Affairs, a British colony. In 1869, 100,000 people lived on the island. [35]The period of World War II and the postwarThe main article for this section are: the Japanese Occupation in SingaporeJapanese Imperial Army marched across central Singapore after the British surrender.
During World War II, the Imperial Japanese Army invaded Malaya, ending the Battle of Singapore. The British were defeated in six days and handed should not invincible fortress to General Tomoyuki Yamashita on February 15, 1942. The delivery was called by the Prime Minister of the United Kingdom, Winston Churchill as "the worst disaster and largest surrender in history the United Kingdom". [36] Sook Ching massacre of ethnic Chinese after Singapore conquered claimed between 5,000 and 25,000 people. [37] Japan renames Singapore became Shōnantō (昭南 岛?), from the Japanese words "Showa no Jidai ni eta minami no shima" ("昭和 の 時代 に 得 た 南 の 島"?), or "southern island obtained in the Showa period", and occupied it until the British regained control of the island on 12 September 1945, one month after the Japanese surrender.
After the war, the British government allowed Singapore held its first general election in 1955 was won by the pro-independence candidate, David Marshall, head of the Labor Front became the Chief Minister.
For the sake of full self-government demands, Marshall led a delegation to London but was rejected by the British. He resigned after returning to Singapore and was replaced by Lim Yew Hock, whose policies then convinced the British. Singapore government granted full internal self with the prime minister and his Cabinet overseeing all government affairs except defense and foreign affairs.
Diadkaan election on May 30, 1959 by the People's Action Party won the election. Singapore instantly became a self-governing state within the Commonwealth on June 3, 1959, and Lee Kuan Yew was sworn in as the first prime minister of Singapore. [38] Then the Governor of Singapore, Sir William Codrington Goode Almond, served as the Yang di-Pertuan first country until December 3 1959. He was replaced by Yusof bin Ishak, later the first President of Singapore.
Singapore declared independence from Britain unilaterally in August 1963, [39] before joining the Federation of Malaysia in September along with Malaya, Sabah and Sarawak as the result of the Singapore 1962 Merger Referendum. Expelled Singapore from the Federation two years after heated ideological conflict between the Singapore PAP government and the federal government in Kuala Lumpur.Independence (since 1965)The main article for this section are: History of the Republic of Singapore
Singapore officially gained sovereignty on August 9, 1965. [8] Yusof bin Ishak was sworn in as president, and Lee Kuan Yew became the first prime minister of the Republic of Singapore.
In 1990, Goh Chok Tong replaces Lee as prime minister. During his reign, the country faced the 1997 Asian Financial Crisis, the SARS outbreak and terrorist threats by Jemaah Islamiyah. In 2004, Lee Hsien Loong, the eldest son of Lee Kuan Yew, prime minister of Singapore. [40] Among the well-known decision is a plan to open casinos to boost tourism. [41]Government and politics
Singapore is a parliamentary republic with a unicameral parliamentary system of government] Westminster representing various constituencies. Constitution of Singapore establishes representative democracy as the political system of the country. [42] People's Action Party (PAP) dominates the political process and has won control of Parliament in every election since becoming self-governing in 1959. [43] Freedom House called Singapore as "partly free "inside" the report Freedom in the World "and The Economist puts Singapore on the level of" hybrid regime ", the third of four ranked in the" Democracy Index ".
Executive power vested in a cabinet led by the prime minister. President of Singapore, historically a ceremonial position, given the right of veto in 1991 for a few key decisions such as the use of the national reserves and the appointment of judicial positions. Although the office is elected by popular vote of the people, only the 1993 elections ever held to date. Legislative branch of government held by the parliament. [44]
Parliamentary elections in Singapore have a plurality basis for group representation constituencies since the Parliamentary Elections Act amended in 1991. [45]
Members of Parliament (MP) consists of members elected, non-constituency and nominated. The majority of the MP elected through general elections on a first-past-the post and represents Single Member or Group Representation Konsituensi (GRC). [46]
Singapore several times entered as one of the countries with the lowest levels of corruption in the world by Transparency International. [47] [48]
Although Singapore law inherited from British law and British India, and includes many elements of English common law, in some cases out of the inheritance law since independence. An example is the trial by jury was abolished.
Singapore has laws and penalties that include judicial corporal punishment in the form of caning for offenses such as rape, violence, riots, drug use, vandalism of property, and some immigration offenses. [49] [50] Singapore also has a mandatory death penalty for murder The first level, smuggling drugs and firearms violations. [51] Amnesty International said that "a series of clauses in the Act Drug Misuse and Abuse Act Firearm contains allegations that are contrary to the rights of guilt is presumed innocent until proven guilty and eroding the right of fair trial, "and predicted that Singapore has" probably the highest execution rate in the world when compared to its population ". [52] The government said that Singapore has the sovereign right to determine the judicial system and impose something that is regarded as appropriate punishment. [53] The government has disputed Amnesty report in a few points. They said that in the five years to 2004, 101 Singaporeans and 37 foreigners have been executed, all but 28 people due to the violation of illegal drugs. [53] Amnesty said 408 executions between 1991 and 2003 from government and other sources of population as many as four million people. [52]
A survey by the Political and Economic Risk Consultancy (PERC) of the expatriate business executives in September 2008 found that those surveyed consider Hong Kong and Singapore have the best judicial system in Asia, with Indonesia and Vietnam the worst: Hong Kong's judicial system scored 1:45 scale (0 to 10 for the best and worst); Singapore with a score of 1.92, followed by Japan (3.50), South Korea (4.62), Taiwan (4.93), Philippines (6.10), Malaysia (6:47), India (6.50), Thailand (7.00), China (7.25), Vietnam (8.10) and Indonesia (8:26). [54] [55]
PERC commented that because the survey involved expatriate business executives rather than political activists, criteria like contracts and IPR protection is emphasized: "the general perception of expatriates is that local politics do not meet the legal way trade and criminal implemented". PERC noted that the Singapore top in the survey did not include political activists who criticize the People's Action Party (PAP) for using the courts to silence critics.
In November 2010, a Singapore court sentenced him to six weeks imprisonment British author, Alan Sheldrake for contempt of court in his book, "Once A Jolly Hangman: Singapore Justice In The Dock", based on interviews with former executioner trial and criticism of the death penalty in
this country .


(2013) قبل 47 عاما اندلعت بعيدا عن سنغافورة وماليزيا، وأصبحت دولة ذات سيادة. من كان يظن، واستقلال الأراضي المدينة التي ستصبح واحدة من النمور الآسيوية هو نتيجة اشتباك بين الأجناس، خاصة بين العرقية الصينية ولغة الملايو، فيما رواه الجزء الخلفي BBC في يوليو 15، 2009.
منذ فترة طويلة، وكانت سنغافورة مستعمرة Srivijaya. في القرن 7-12، أكثر الناس يعرفون عنه تيماسيك. وتزدحم هذا المجال نظرا للأراضي الاستراتيجية. بعد يتلاشى السلطة Srivijaya وسلطنة جوهور المرفقة فورا وحكمت لفترة طويلة، منذ القرن 16th إلى 19.
إدارة المدينة لوضع نفسها على أنها مناطق للتجارة محايدة، على الرغم من الدول الأوروبية مثل البرتغال وإسبانيا بدء وصول المتداولة في جنوب شرق آسيا التوابل. بدأ سنغافورة لتغيير مصير عندما محافظ ستامفورد رافلز البريطاني توماس العامة التوصل إلى اتفاق مع السلطان حسين شاه، حاكم الجزيرة الصغيرة. البلد الملكة اليزابيث بناء قواعد والمدن رائد سنغافورة الحديثة.
في الحرب العالمية الثانية، واليابان وسنغافورة فازت انجلترا الهيمنة. في ذلك الوقت، بدأت بذور الشقاق بين الأجناس في الظهور. من مجموع السكان، تصل إلى أكثر من نصف المهاجرين الصينيين وتسابق كثير من الأحيان الحصول على وظيفة مع الملايو وهم السكان الأصليون.
في نهاية الحرب هزمت اليابان. عاد إلى إنجلترا في المنطقة ولإعطاء الحكم الذاتي للحالة الخاصة سنغافورة وماليزيا.
في انتخابات 1959 العامة، وانتخب لي كوان يو، وسياسي في المدينة الدولة رئيس مجلس الوزراء مؤثرة. كونها دول الكومنولث البريطانية لم تجلب الخير على الفور. حاول تضارب سباق، والاقتصاد، والفكر، خاصة أن العديد من الناشطين الشيوعيين من الصين إلى سنغافورة، مما هو ضرب هذا البلد الصغير من أعمال الشغب في كثير من الأحيان خلال الفترة من 1950s.
رؤية إنجلترا بدأ إهمال رعاية سنغافورة، رست اختيار قادة البلاد الأسد مع جيرانها.
في 31 أغسطس 1963، انضمت رسميا إلى سنغافورة اتحاد ماليزيا وصباح وساراواك مع.
لا شيء جيد يمكن إنكاره، زعيم ماليزيا على ما يبدو يتم تطبيق سياسة منح حقوق خاصة للbumiputera، والملايو العرقية. المساس العرقية هي أيضا تعج الحكومة في كوالالمبور تميز في كثير من الأحيان ضد المواطنين ذوي الأصول الصينية.
ونتيجة لذلك، وسنغافورة المحاصرين مرة أخرى في أعمال شغب بعد الشغب، أشد في عام 1964. الشعور بلد صغير يمكن أن يكون إلا مصدرا للعنف، أدلى البرلمان الماليزي في عام 1965 بقرار من المستغرب.
بتصويت من 126 مقابل 0، وافق جميع أعضاء البرلمان على الانسحاب من سنغافورة من اتحاد ماليزيا.
أصبحت سنغافورة هي الدولة الوحيدة في العالم أن الحرية ليست بسبب الرغبة نفسها. لي كوان يو، على الرغم من محاولة متفائل تواجه مشاكل عند التعامل مع mahaberat البلاد بعد الاستقلال. ارتفاع معدلات البطالة، والأحياء الفقيرة الجزيرة بأكملها تقريبا، وبطبيعة الحال، لا الموارد الطبيعية لملء خزائن الدولة.
بقبضة من حديد، وقال انه تدمير سنغافورة أصبحت واحدة من مدينة محترمة. يتم التخلص من الفساد، والتنمية رقي والنظافة حراسة جدا. لي كوان يو يريد المستثمرين الأجانب والتجار مثل العبور في البلاد.
الآن، الدولة يغطي سوى ربع واحد في جاكرتا أصبح من أكثر البلدان ازدهارا وتقدما في العالم.2011 تظهر البيانات أن يبلغ عدد سكان سنغافورة البالغ 4.8 مليون نسمة.الدخل القومي للفرد 41،430 $ أمريكي أو ما يعادل 373،000،000 روبية.في حين أن معدل البطالة في الدولة ليست سوى اثنين في المئة.
المحاضر الأول من التسوية في سنغافورة هي من AD 2nd القرن. [34] أعطى إيجار مشترك الجزيرة موقعا من Srivijaya في سومطرة، واسم تيماسيك في لغة جافا، والتي تعني "البحر البلدة. بين القرن 16th وبداية القرن 19th، أصبحت سنغافورة جزءا من سلطنة جوهور. في 1613، أحرق القراصنة البرتغالية التسوية عند مصب نهر سنغافورة وجزيرة أصبحت أقل دون أن يلاحظها أحد حتى القرنين التاليين.حكم الاستعمار البريطانيالمقالة الرئيسية لهذا القسم هي: تأسيس سنغافورة الحديثةانظر أيضا: الخارجية سنغافورة مضيق
في 28 يناير، 1819، هبطت توماس ستامفورد رافلز في الجزيرة الرئيسية في سنغافورة. وقع رافلز بعد رؤية إمكاناتها بوصفها استراتيجية يمزج التوجه إلى جنوب شرق آسيا، معاهدة مع السلطان حسين شاه نيابة عن شركة الشرق للتجارة البريطانية الهند في 6 فبراير، 1819 إلى تطوير الجزء الجنوبي من سنغافورة كمركز تجاري البريطانية والتسوية. [35]
حتى 1824، كان لا يزال سنغافورة إقليم يسيطر عليها سلطان الملايو. ثم، أصبحت هذه الأرض مستعمرة بريطانية على 2 أغسطس 1824 عندما جون Crawfurd، وساكن اخر سنغافورة، أدلى رسميا الجزيرة بأكملها والحكم البريطاني من خلال توقيع اتفاقية مع شاه سلطان حسين سلطان وTemenggong تفيد سلم إلى تجارة الهند الشرقية البريطانية شركة. في عام 1826، أصبحت سنغافورة جزءا من مضيق الشؤون الخارجية، مستعمرة بريطانية. في عام 1869، 100،000 شخص يعيشون في الجزيرة. [35]فترة الحرب العالمية الثانية وبعد الحرب علىالمقالة الرئيسية لهذا القسم هي: الاحتلال الياباني في سنغافورةسار الجيش الإمبراطوري الياباني في وسط مدينة سنغافورة بعد استسلام البريطانية.
خلال الحرب العالمية الثانية، غزت الجيش الإمبراطوري الياباني مالايا، وتنتهي معركة سنغافورة. هزم البريطانيون في ستة أيام وسلم القلعة ينبغي أن لا يقهر العامة تومويوكي ياماشيتا في 15 فبراير 1942. كان يسمى التسليم من قبل رئيس وزراء المملكة المتحدة ونستون تشرشل بأنها "أسوأ كارثة وأكبر استسلام في تاريخ المملكة المتحدة". [36] وادعى مذبحة تشينغ سوك من العرقية الصينية بعد سنغافورة بين محتل و5،000 25،000 نسمة. [37] اليابان سنغافورة أصبح Shōnantō إعادة تسمية (昭南 岛؟)، من كلمات يابانية "شوا لا Jidai ني ايتا مينامي لا شيما" ("昭和 の 時代 に 得 た 南 の 島"؟)، أو "الجزيرة الجنوبية التي تم الحصول عليها في شوا الفترة "، واحتلتها حتى استعاد السيطرة البريطانية من الجزيرة في 12 سبتمبر 1945، بعد شهر من استسلام اليابان.
أصبح ديفيد مارشال، رئيس جبهة العمل بعد الحرب، سمحت الحكومة البريطانية عقدت سنغافورة وفاز انتخاباتها العامة الأولى في عام 1955 من قبل المرشح المؤيد للاستقلال، ورئيس الوزراء.
من أجل مطالب الحكم الذاتي الكامل، قاد مارشال وفدا إلى لندن لكنه رفض من قبل البريطانيين. استقال بعد عودته إلى سنغافورة وحلت محلها هوك يو ليم، لمن السياسات اقتناع ثم البريطانيين. منح الحكم الذاتي الكامل سنغافورة الداخلية مع رئيس الوزراء ومجلس وزرائه الإشراف على جميع الشؤون الحكومية باستثناء الدفاع والشؤون الخارجية.
فاز في الانتخابات Diadkaan في 30 مايو عام 1959 من قبل حزب العمل الشعبي في الانتخابات. سنغافورة أصبحت الدولة على الفور بالحكم الذاتي داخل الكومنولث في 3 يونيو عام 1959، وأدى اليمين الدستورية في لي كوان يو ورئيس الوزراء الأول في سنغافورة. [38] ثم خدم حاكم سنغافورة، السير وليام كودرينغتون غود اللوز، بوصفها البلد دى بيرتوان يانغ الأول حتى 3 ديسمبر 1959. وقد حل محله Yusof بن اسحاق، في وقت لاحق أول رئيس لسنغافورة.
أعلنت سنغافورة الاستقلال عن بريطانيا من جانب واحد في أغسطس 1963، [39] قبل أن ينضم إلى اتحاد ماليزيا في سبتمبر مع صباح، ماليزيا ساراواك ونتيجة للاستفتاء الاندماج سنغافورة عام 1962. طرد سنغافورة من الاتحاد بعد عامين من الصراع الفكري والأيديولوجي ساخنة بين الحكومة PAP سنغافورة والحكومة الاتحادية في كوالا لمبور.الاستقلال (منذ 1965)المقالة الرئيسية لهذا القسم هي: تاريخ جمهورية سنغافورة
اكتسبت السيادة رسميا سنغافورة في 9 آب، 1965. [8] وتولى بن اسحاق في Yusof رئيسا، وأصبح لي كوان يو أول رئيس وزراء لجمهورية سنغافورة.
في عام 1990، جوه تشوك تونغ يستبدل لي كرئيس للوزراء. خلال فترة حكمه، واجهت البلاد لعام 1997 الأزمة المالية الآسيوية، واندلاع السارس والتهديدات الإرهابية من قبل الجماعة الاسلامية. في عام 2004، لي هسين لونغ، وهو الابن الأكبر للي كوان يو، رئيس وزراء سنغافورة. [40] ومن بين القرارات المعروفة هي خطة لفتح الكازينوهات لتعزيز السياحة. [41]الحكومة والسياسة
سنغافورة هي جمهورية برلمانية مع نظام حكم برلماني مجلس واحد] وستمنستر التي تمثل مختلف الدوائر الانتخابية. دستور سنغافورة يؤسس الديمقراطية التمثيلية والنظام السياسي للبلد. [42] حزب العمل الشعبي (PAP) تهيمن على العملية السياسية وفاز السيطرة على البرلمان في كل انتخابات منذ توليه الحكم الذاتي في عام 1959. [43] بيت الحرية كما دعا سنغافورة "حرة جزئيا" داخل "حرية تقرير في العالم" والخبير الاقتصادي يضع سنغافورة على مستوى "النظام الهجين"، والثالث من أربعة في المرتبة "مؤشر الديمقراطية".
تناط السلطة التنفيذية في مجلس الوزراء برئاسة رئيس الوزراء. رئيس سنغافورة، تاريخيا منصب شرفي، وبالنظر إلى حق النقض (الفيتو) في عام 1991 لاتخاذ قرارات رئيسية قليلة مثل استخدام الاحتياطي الوطني وتعيين المناصب القضائية. على الرغم من أن يتم انتخاب المكتب عن طريق التصويت الشعبي للشعب، إلا انتخابات 1993 التي عقدت حتى الآن من أي وقت مضى. السلطة التشريعية للحكومة التي عقدها البرلمان. [44]
الانتخابات البرلمانية في سنغافورة لها أساس التعددية لتمثيل الدوائر الانتخابية مجموعة القانون المعدل منذ الانتخابات البرلمانية في عام 1991. [45]
أعضاء البرلمان (MP) ويتكون من أعضاء منتخبين وغير الانتخابية والمرشحين. غالبية النائب المنتخب عن طريق الانتخابات العامة على موقع أول الماضي، ويمثل عضو واحد أو مجموعة التمثيل Konsituensi (GRC). [46]
دخلت عدة مرات سنغافورة باعتبارها واحدة من البلدان التي لديها أدنى مستويات الفساد في العالم من حيث الشفافية الدولية. [47] [48]
على الرغم من أن سنغافورة القانون الموروثة من القانون البريطاني والهند البريطانية، ويتضمن العديد من عناصر القانون العام الانكليزي، في بعض الحالات من قانون الميراث منذ الاستقلال. ومن الأمثلة على ذلك ألغيت المحاكمة أمام هيئة محلفين.
سنغافورة لديها قوانين والعقوبات التي تشمل العقوبة البدنية القضائية في شكل الضرب بالعصا على جرائم مثل الاغتصاب، والعنف، وأعمال الشغب، وتعاطي المخدرات، والتخريب للممتلكات، وبعض جرائم الهجرة. [49] [50] سنغافورة لديها أيضا عقوبة الإعدام الإلزامية بتهمة القتل المستوى الأول، تهريب المخدرات والأسلحة النارية الانتهاكات. [51] وقالت منظمة العفو الدولية إن "يفترض سلسلة من الأحكام في تعاطي قانون قانون المخدرات من سوء استخدام الأسلحة النارية ويتضمن ادعاءات التي تتعارض مع حقوق الذنب بريء حتى تثبت إدانته وتآكل الحق في محاكمة عادلة،" سنغافورة التي وتوقع و"على الارجح أعلى معدل التنفيذ في العالم بالمقارنة مع عدد سكانها". [52] وقالت الحكومة ان سنغافورة لديها الحق السيادي في تحديد وفرض النظام القضائي وهو ما يعتبر العقوبة المناسبة. [53] وكانت الحكومة قد شكك في تقرير منظمة العفو بضع نقاط. قالوا أنه في السنوات الخمس حتى عام 2004، أعدم 101 السنغافوريين والأجانب 37، ولكن كل 28 شخصا بسبب انتهاك المخدرات غير المشروعة. [53] قالت منظمة العفو الدولية إعدام 408 بين عامي 1991 و 2003 من مصادر حكومية وأخرى من السكان ما يقرب من أربعة ملايين شخص. [52]
وجدت دراسة لاستشارات المخاطر السياسية والاقتصادية (PERC) من رجال الأعمال المغتربين في سبتمبر 2008 أن الذين شملهم الاستطلاع النظر هونج كونج وسنغافورة لديها أفضل نظام قضائي في آسيا، مع اندونيسيا وفيتنام أسوأ: نظام هونج كونج القضائي سجل 1 : 45 الحجم (0 إلى 10 لأفضل وأسوأ)؛ سنغافورة برصيد 1.92 تليها اليابان (3.50)، كوريا الجنوبية (4.62)، تايوان (4.93)، والفلبين (6.10)، وماليزيا (6:47) والهند (6.50) وتايلند (7.00)، والصين (7.25)، وفيتنام (8.10) وإندونيسيا (8:26). [54] [55]
لأن PERC أن علق شمل المسح رجال الأعمال المغتربين بدلا من النشطاء السياسيين، ومعايير مثل العقود وحماية حقوق الملكية الفكرية وشدد على: "التصور العام للمغتربين هو أن السياسة المحلية لا تلبي بطريقة قانونية ويتم تنفيذ هذه التجارة الإجرامية". لاحظت أن PERC الأعلى سنغافورة في المسح لم يشمل النشطاء السياسيين الذين ينتقدون حزب العمل الشعبي (PAP) لاستخدام المحاكم لإسكات المنتقدين.
في نوفمبر 2010، حكمت عليه محكمة في سنغافورة بالسجن لمدة ستة أسابيع المؤلف البريطاني، آلان شيلدريك بتهمة ازدراء المحكمة في كتابه، "مرة واحدة في الجلاد جولي: العدل سنغافورة في قفص الاتهام"، استنادا إلى مقابلات مع محاكمة الجلاد السابق وانتقادات لل عقوبة الإعدام في هذا البلد.



=================================

=================================