Showing posts with label SEJARAH BORNEO. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH BORNEO. Show all posts

Wednesday, May 4, 2016

Baroamas Massoeaka Djabang Djanting Balunus


Baroamas Massoeaka Djabang Djanting Balunus
TOKOH DAYAK BORNEO
Selamat jalan Bapak Baroamas Massoeaka Djabang Djanting Balunus, seorang pejuang hebat, budayawan sejati, tokoh masyarakat kalbar yang mulia. 

Meninggal dalam umur 92 tahun (03.05.2016) di Pontianak, beliau orang Dayak Taman Kapuas Hulu, berkeyakinan Khatolik. 

Dimasa hidup, Beliau pernah membantu Sultan Hamid II dalam memberikan saran untuk merancang lambang Elang Rajawali Garuda Pancasila pada tahun 1950 di Hotel Des Indes Jakarta.



Ialah seorang pejuang, sahabat Sultan Hamid II. Beliau pernah menjadi anggota BPH (Badan Pemerintahan Harian) Daerah Istimewa Kalimantan Barat (1946 - 1950), salah satu yang membangun Partai Persatuan Dayak (PPD). pernah berkarir sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI dan Instruktur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Saturday, December 20, 2014

PERSATUAN DAYAK



THE UNITED DAYAK PARTY- PPD
5 Oktober 1945



Mars Dayak

Persatuan Dayak (PD) merupakan organisasi pertama bagi orang Dayak yang sangat mendarah daging di dalam lingkungan masyarakat Dayak dan sangat berjasa serta mempunyai peran yang sangat besar untuk kemajuan dan persatuan masyarakat Dayak.

Banyak generasi muda Dayak yang tidak begitu memahami tentang Sejarah Persatuan Dayak (PD), bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mengenal dan mendengar apa itu Persatuan Dayak (PD).


Untuk itu, kami rasa perlu menceritakan kembali tentang Persatuan Dayak (PD), supaya generasi berikutnya dapat memahami dan tidak terjadi kesimpangsiuran
tentang sejarah Persatuan Dayak (PD), karena informasi yang kami dapatkan selain dari Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Persatuan Dayak (PD) juga dari para pengurus dan anggota Persatuan Dayak (PD). Informasi ini kami kumpulkan dari tahun 2002.


Mengenai Sejarah Persatuan Dayak ini, tiap tahunnya sudah kami perkenalkan pada event Pekan Gawai Dayak Kalimantan Barat di Pontianak melalui buku Panduan Materi Acara, dengan maksud mengingatkan kembali kepada warga Dayak tentang Persatuan Dayak yang sangat berjasa dalam kehidupan masyarakat Dayak yang dapat dirasakan sekarang ini manfaatnya.


Persatuan Dayak didirikan pertama kali di Putusibau, Kabupaten Kapuas Hulu oleh (Alm) Frans Connrad Palaunsoeka pada tanggal 5 Oktober 1945 dengan nama Dayak In Action. Ketuanya adalah (Alm) FC. Palaunsoeka sedangkan Sekretaris adalah Bapak (Alm) Rafael Sarang (Bapak Mertua dari LH Kadir).


Gagasan didirikannya Persatuan Dayak ini berdasarkan pertemuan guru-guru agama katolik se-Kalimantan Barat di Sanggau tahun 1942.


Tujuan didirikannya Dayak In Action ini yaitu :


- Untuk mempersatukan masyarakat dayak yang terdiri dari berbagai macam sub suku.


- Untuk memperjuangkan hak-hak dan martabat masyarakat dayak dari penjajahan dan pendatang agar bisa sederajat.


- Menurut keadilan sosial dalam masyarakat.


Pada tahun 1946 beberapa daerah (kabupaten) meminta untuk memindahkan kedudukan Dayak in Action ke Pontianak sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Dan pada tanggal 1 Januari 1947 pemindahan Dayak In Action dan penggantian nama menjadi Persatuan Dayak diumumkan secara serentak ke seluruh Kalimantan Barat.


Tujuan dari Persatuan Dayak yaitu :


1. Mempertahankan kedaulatan Bangsa dan Negara Indonesia


2. Mewujudkan suatu susunan pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah-daerah yang di bentuk berdasarkan kehendak rakyat (demokrasi)


3. Melaksanakan keadilan sosial dalam masyarakat .


4. Mewujudkan perbaikan nasib Suku Bangsa Indonesia Dayak yaitu dengan mengangkat derajat penghidupan, mempertinggi pengetahuan, menghapuskan kesengsaraan dan penderitaan.


Usaha untuk mencapai maksud :


1. Memperkuat semangat persaudaraan


2. Memperkuat keinsyafan dan keyakinan atas tenaga sendiri, berpegangan kepada semboyan atas tenagamu, tergantung nasibmu.


3. Memperkuat keinsyafan dan keyakinan akan artinya dan faedahnya bekerja bergotong royong dan bantu membantu.


4. Menganjurkan cara bekerja yang sistematis dan organisatoris


5. Menjalankan ikhtiar-ikhtiar
yang tidak bertentangan dengan undang-undang atau peraturan-peraturan pemerintah, maupun hukum adat yang masih berlaku.


Adapun Pengurus inti Persatuan Dayak (PD) adalah :


Tahun 1947-1958


Ketua Umum : Agustinus Djelani (Asal Taman Kapuas,Kapuas Hulu)


Sekretaris : - Michael Anai (Asal Mempawah Hulu) tahun 1947-1952


- A. Sani (Asal Toho) tahun 1952-1958


Bendahara : M. Nyabu (Asal Sanggau)


Tahun 1958-1962 (Berdasarkan hasil Kongres PD di Sintang)


Ketua Umum : FC. Palaunsoeka (Asal Taman Kapuas, Kapuas Hulu)


Wakil Ketua : Saiyan (Asal Pa’Kumbang)


Sekretaris Jenderal : Victor Oendoen (Asal Nyarumkop)


Bendahara : M. Nyabu (Asal Sanggau)


Pemilu tahun 1955 Persatuan Dayak menduduki urutan ke 2 (dua) di Kalimantan Barat sedangkan urutan pertama kemenangan pada pemilu ini adalah Masyumi.


Pada kepemimpinan Bp. FC. Palausoeka, Persatuan Dayak bergabung dengan Partai Katolik dapat merebut kemenangan pada pemilu tahun 1958 di Kalimantan Barat sehingga dapat menghasilkan Gubernur dan Bupati dari suku Dayak di Kalimantan Barat yaitu :


- JC. Ovang Oeray sebagai Kepala Daerah


- YR. Giling sebagai Bupati Kapuas Hulu


- GP. Djaoeng sebagai Bupati Sintang


- TH. Djaman sebagai Bupati Sanggau


- Agustinus Djelani sebagai Bupati Pontianak


- FC. Palaunsoeka sebagai anggota MPR Utusan Kalimantan Barat


Sebelum JC. Ovang Oeray menjadi Gubernur Kalimantan Barat, propinsi Kalimantan Barat dipimpin oleh seorang Kepala Daerah bukan Gubernur.


Pada tahun 1959 Propinsi Kalimantan Barat dipimpin oleh seorang Gubernur Kepala Daerah dan JC Ovang Oeray merupakan orang pertama yang menjabat sebagai Gubernur Kepala Daerah di Kalimantan Barat.


Program Perjuangan Persatuan Dayak (PD)


Bidang Politik


1. Supaya Irian Barat selekas lekasnya kembali ke dalam Wilayah Republik Indonesia


2. Supaya Republik Indonesia tetap tinggal Negara Hukum dan Demokratis.


3. Supaya Negara dan alat-alatnya selalu menghormati, melindungi dan menjamin hak-hak kemerdekaan tiap-tiap individu menurut hak-hak asasi manusia.


4. Supaya keamanan, perdamaian, keadilan dan peradapan selalu terjamin.


5. Supaya dasar Negara Pancasila jadi praktek sehari-hari oleh pembesar dan alat-alat Negara.


6. Supaya alat kekuasaan Negara hanya akan dikerahkan untuk keselamatan dan kebahagiaan umum.


7. Agar kesatuan undang-undang dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah mempunyai dasar-dasar kebahagiaan umum dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia


8. Hak-hak yang sama dan perlakuan sama dan adil terhadap setiap rakyat dan golongan penduduk warganegara Indonesia.


9. Supaya Negara Kesatuan Republik Indonesi tidak mempunyai struktur-strukt
ur seperti dalam jaman kolonial


10. Agar diadakan desentralisasi yang demikian rupa, sehingga kepada tiap-tiap daerah bagian Negara sampai kepada persekutuan-per
sekutuan yang terkecil diberikan otonomi luas dan hak mengurus diri sendiri.


11. Untuk menjamin dan memudahkan demokrasi dengan dewan-dewan perwakilan rakyat di tiap-tiap daerah bahagiaan, juga untuk persekutuan-per
sekutuan yang terkecil dan kepada suku-suku yang terbelakang untuk mempunyai wakil-wakilnya sendiri.


Bidang Pengajaran (Pendidikan)


1. Supaya kewajiban belajar yang umum dilaksanakan dan di atur dengan undang-undang


2. Supaya pemberantasan buta huruf dijalankan dengan seksama dan seluas-luasnya


3. Supaya pengajaran didasarkan pada memperdalam perasaan kebangsaan dan persatuan serta rasa pengasingan dan perikemanusiaan


4. Kebebasan sepenuhnya bagi badan-badan dan inisiatif partikulir dalam mendirikan sekolah-sekolah
serta bantuan dan perlindungan pemerintah


5. Hak dan perlakuan yang sama bagi sekolah-sekolah
, guru-guru dan murid-murid sekolah partikulir yang mempunyai syarat sama dengan sekolah negeri


6. Kebebasan kepada rakyat untuk memasuki sekolah yang disukainya


7. Kesempatan luas dan sokongan bagi para pemuda dan pemudi untuk melanjutkan pelajaran mereka ke sekolah-sekolah
tinggi dengan tidak membedakan golongan dan agama.


Bidang Kebudayaan


1. Membimbing jiwa budaya kearah perkembangan nasional


2. Menyokong perkembangan kebudayaan daerah


Bidang Agama


1. Kemerdekaan dijamin, bantuan dan perlindungan yang sama kepada semua persekutuan agama


2. Kemerdekaan bagi setiap orang untuk memeluk dan berpindah agama


3. Kemerdekaan belajar dan mengadakan sesuatu agama yang di akui


4. Pengajaran agama di sekolah diberikan seturut agama atau seturut kamauan


5. Kebebasan dalam melakukan pekerjaan dan upacara agama


Bidang Sosial


1. Memajukan kebersihan umum dan keselamatan


2. Perbaikan nasib rakyat jelata serta bantuan kepada serikat-serikat
kaum tani


3. Kemerdekaan, dorongan dan sokongan atas badan-badan partikulir yang bekerja untuk perbaikan sosial dan kesehatan rakyat. Hak dan kewajiban sama rata atas badan-badan sosial partikulir yang memenuhi syarat yang ditetapkan pemerintah


4. Kemerdekaan mendirikan badan-badan amal dan sosial serikat sekerja serta pemerintah


5. Bantuan dan pemeliharaan orang-orang malang, piatu dan miskin


6. Mencegah perbudakan, kerja paksa kepada tiap-tiap anggota masyarakat


7. Keselamatan dan kepentingan serta perbaikan nasib kaum tua dan kaum muda baik dalam arti jasmani baikpum rohani


8. Kemajuan semangat gotong royong dan suka rela


9. Kemerdekaan dan kesempatan bagi seseorang untuk jadi pegawai dan memegang jabatan-jabatan
dengan tidak membedakan agama dan golongan


10. Jaminan hidup dan perlindungan atas buruh serta peraturan gaji dan upah yang patut berdasarkan keadilan peri kemanusiaan.


Bidang Kemakmuran


1. Mempertinggi kemakmuran dan kebahagiaan rakyat sebagai kewajiban yang utama dari pemerintah


2. Mencegah dictator ekonomi dan memperjuangkan kebebasan untuk berusaha serta kebebasan mempunyai dan penghormatan hak milik.


3. Supaya kepentingan dan kebahagiaan umum jadi sebagai dasar dari semua usaha-usaha perseorangan


4. Nasionalisasi atas perusahaan-peru
sahaan yang sangat penting bagi keperluan umum.


5. Bantuan dan dorongan serta pimpinan kepada rakyat dalam mendirikan koperasi-kopera
si kampong serta lumbung-lumbung desa dan usaha-usaha yang memperbesar factor-factor produksi.


6. Memajukan semangat bekerja dan berusaha


7. Pendirian bank-bank rakyat serta kesmpatan pinjaman bagi kaum tani


8. Perkembangan perekonomian dan perindustrian nasional, perdagangan dan harga yang adil, pemberantasan korupsi dan riba


9. Melindungi hak-hak tanah rakyat dan menjaga agar setiap orang dapat mempunyai sumber penghidupan.


Masyarakat Dayak boleh berbangga hati karena para pengurus Persatuan Dayak pada zaman itu sudah mampu berpikir tentang berbagai aspek seperti ekonomi, kesejahteraan, sosial, pendidikan, dan lainnya. Padahal sampai saat ini suku Dayak masih dianggap suku primitif pleh pihak lain, masih dianggap terbelakang, namun Para Tokoh masyarakat Dayak pada zaman itu mampu menunjukan kemampuan mereka untuk berkarya, memipin, mempelopori dan mempersatukan suku Dayak di Kalimantan Barat yang terdiri dari berbagai macam sub suku dalam Persatuan Dayak.


Padahal transportasi pada era tahun 1945 sangat minim dan terisolir tapi Tokoh masyarakat Dayak pada masa itu memang betul-betul berjuang.


Bahkan pada tahun 1949 masyarakat Dayak sudah mempunyai lagu March Persatuan Dayak yang diciptakan oleh FC. Palaunsoeka. Lagu tersebut atas persetujuan ahli waris (istri Bp. FC. Palaunsoeka) menjadi lagu March Dayak, yang selalu dinyanyikan setiap acara-acara yang berkaitan dengan kegiatan Dayak. Bahkan sudah diputuskan dalam Munas II Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) di Pontianak Tahun 2006, bahwa lagu March Dayak adalah lagu Persatuan Dayak se-Kalimantan.


Tidak semua suku-suku yang ada di Indonesia pada masa itu mempunyai lagu persatuan tapi orang Dayak sudah punya lagu Persatuan, dimana lagu tersebut diciptakan pada era alat-alat musik masih sangat minim dan terbatas di Kalimantan Barat.


Untuk itu, kita sebagai penerus para Tokoh tersebut, jangan mau kalah, harus mampu menunjukkan bahwa generasi di mana transportasi lancar dan era komputerisasi dan telekomunikasi sudah memasyarakat di Kalimantan Barat, kita kaula muda mampu dan dapat berkarya seperti tokoh-tokoh tersebut, bahkan harus lebih baik dari mereka.


Dan kesuksesan tersebut jangan sampai terputus di tangan generasi berikutnya, terus meraih kesuksesan dengan pengkaderan.


Sumber :


1. Pengurus PD dan anggota PD :


- Baroamas Masuka Janting (Pontianak)


- Alep Gompeng (Bengkayang)


- Apai (pengurus adat Sekadau)


- ID. Soeryamassoeka (Pontianak)


- H. Omar (Sanggau)


2. Pengamat PD


3. Anggaran dasar PD

Saturday, September 13, 2014

THE RELATIONSHIP AMONG THE PONTINAK SULTANATE WITH THE DAYAK KINGDOMS OF MEMPAWAH AND MATAN


HUBUNGAN KESULTANAN PONTIANAK DENGAN KERAJAAN DAYAK 
MEMPAWAH DAN MATAN
SERTA PERAN DAYAK DALAM MEMBUKA HUTAN UNTUK LOKASI  MENDIRIKAN ISTANA DAN MASJID

THE RELATIONSHIP AMONG  THE PONTINAK SULTANATE WITH THE DAYAK KINGDOMS 
OF MEMPAWAH  AND MATAN

AND THE ROLE OF DAYAKS IN OPENING THE FORESTS FOR STARTING LOCATION PALACE AND MOSQUE  



Keraton Pontianak yang megah dengan struktur bangunan dari kayu yang kokoh, didirikan oleh Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie pada tahun 1771.Keraton Pontianak merupakan perpaduan dari Arab-Yaman, Dayak , Banten dan Bugis.


Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie, keturunan Al Habib Husin, hasil pernikahannya dengan putri Dayak- Nyai Tua ( Banten Dayak ) dari Kerajaan Matan Ketapang; dan Syarief Abdurrachman Alqadrie menikahi Utin Tjandramidi ( Bugis Dayak )  anak Daeng Manambon dari Mempawah.

Maka merekapun mengikuti peluru meriam itu. Mereka mula-mula mendirikan pondok-pondok sederhana beratapkan ilalang, namun ternyata gangguang hantu Pontianak itu tidak berhenti bahkan mengancam jiwa mereka oleh sebab itu mereka kemudian kembali kedalam perahunya. Saat itu mereka hendak mendirikan sebuah Mesjid sebelum mendirikan sebuah Keraton, namun setiap kali pohon itu ditebang esoknya pohon itu bertaut kembali.

Maka berangkatlah mereka menggunakan sampan menuju anak Sungai Kapuas sambil mencicipi rasa air sungai apakah tawar atau asin. Ketika mereka menyusuri sungai itu terdengarlah suara orang  yang mengatakan “MALAIYA” (Sebenarnya kalimat lengkapnya adalah “MAE MALA IYA?” yang dalam bahasa Dayak Kendayan artinya “bagaimana membelahnya?”). Maka sesegera mungkin mereka ini kembali ke KAKAP dan memberitahukan perihal ini kepada Syarif Abdurrahman.
Mendengar berita ini Syarif Abdurrahman sangat gembira maka Ia bersama anak buahnya pergi menyusuri sungai itu (Sungai itu sekarang bernama MALAYA), setibanya disana ia bertemu 7 orang Dayak yang sedang memasak. Kemudian Syarif Abdurrahman bertanya kepada mereka “Siapakah Kamu?”. Ketujuh orang Dayak ini yang masih menggunakan cawat berlata: “KAMI INILAH RAKYAT PUSAKA TURUNAN MEMPAWAH MENCARI HIDUP DI DAERAH SUNGAI BERCABANG DUA”, lalu Syarif Abdurrahman bertanya lagi: “Pandaikah kamu bekerja?” merekapun menjawab semua kami bisa bekerja apa saja.



Kemudian Syarif Abdurrahman menceritakan semua permasalahan yang mereka hadapi terutama gangguan hantu Pontianak, maka Syarif Abdurrahman meminta bantuan ketujuh Orang Dayak itu jika mereka berhasil menebang pohon untuk mereka mendirikan mesjid.
Ketujuh orang dayak inipun menyanggupinya namun harus diadakan sebuah upacar adat yaitu dengan mengalirkan darah binatang (babi) disekeliling kayu yang akan ditebang itu dan meminta ijin kepada roh-roh penunggunnya.

Lalu ketujuh orang Dayak ini melakukan ritual dan mempersembahkan korban dan mulailah mereka menebang pohon tersebut dan sebentar saja tanpa gangguang pohon itupun tumbang.
Atas jasa ketujuh orang Dayak itu Syarif Abdurrahman memberikan hadiah berupa berkarung-karung beras, pakaian.
Dan mereka telah punya lahan kebun yang terbentang  sepanjang Sungai Ambawang, selebar lima puluh depa.

Ketujuh Orang Dayak ini kemudian membuka lahan tersebut serta diikuti oleh rombongan Suku Dayak secara bergelombang.

Rombongan pertama sejumlah 20 keluarga, pemimpinnya tidak disebutkan namanya, mereka bertani dan mendiami daerah kampung Durian.

Rombongan kedua dipimpin oleh Macan Sumit bersama 40 keluarga mendiami Kampung Cabang Kiri

Rombongan ketiga dipimpin oleh Tumenggung Madja bersama 60 keluarga mereka mendiami Simpang Kanan


Rombongan kelima dipimpin oleh Nek Nane bersama 100 keluarga, mereka mendiami daerah Pancaroba, Ngabang dan Landak.

Demikianlah sejarah keterlibatan Suku Dayak dalam pembentukan Kerajaan Pontianak.



I. Sisilah Kerajaan Mempawah.

Masa Dayak


  1. Patih Gumantar (± 1380)
  2. Raja Kudung (± 1610)
  3. Panembahan Senggaok (± 1680)


Masa Islam



  1. Opu Daeng Menambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara (1740–1761)
  2. Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma (1761–1787)
  3. Syarif Kasim bergelar Panembahan Mempawah (1787–1808)
  4. Syarif Hussein (1808–1820)
  5. Gusti Jati bergelar Sri Paduka Muhammad Zainal Abidin (1820–1831)
  6. Gusti Amin bergelar Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin (1831–1839)
  7. Gusti Mukmin bergelar Panembahan Mukmin Nata Jaya Kusuma (1839–1858)
  8. Gusti Makhmud bergelar Panembahan Muda Makhmud Alauddin (1858)
  9. Gusti Usman bergelar Panembahan Usman (1858–1872)
  10. Gusti Ibrahim bergelar Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin (1872–1892)
  11. Gusti Intan bergelar Ratu Permaisuri (1892–1902)
  12. Gusti Muhammad Thaufiq Accamuddin (1902–1944)
  13. Gusti Mustaan (1944–1955); diangkat oleh Jepang
  14. Gusti Jimmi Muhammad Ibrahim Bergelar Panembahan XII (1955-2002)
  15. Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim bergelar Panembahan XIII (2002–sekarang)

 

II. Sisilah Kesultanan Pontianak.

 



Pontianak palace with a magnificent structure of solid wood, founded by Sultan Syarif Abdurrachman 1771. Pontianak Palace is a fusion of Arabic-Yemeni, Dayak, Banten and Bugis.


Sultan Syarif Abdurrachman Alqadrie, Al Habib Husin descent, marriage to the daughter Dayak- Nyai Tua (Bantam Dayak) of the Kingdom of Matan Ketapang; and Syarif Abdurrachman Alqadrie married Utin Tjandramidi (Bugis Dayak) 
the daughter  of Daeng Manambon from  Mempawah.

So they follow the cannon ball. They initially establish the simple huts thatched roofs, but it turns out gangguang Pontianak ghost was not stopped even threatening their lives so they then go back into the boat. At that time they wanted to establish a Mosque before setting up a palace, but each time the tree was cut down the tree fit together again the next day.

So off they went by boat to the child while tasting flavors Kapuas River river water is fresh or salty. As they walked along the river there was a saying "MALAIYA" (Actually the full sentence is "MAE MALA YES?" Which in Kendayan Dayak language means "how to split it?"). So as soon as they returned to KAKAP and inform about this to Syarif Abdurrahman.

Hearing this news very excited Syarif Abdurrahman He and his men then went down the river (the river now named MALAYA), upon his arrival there he met 7 of the Dayaks who are cooking.

Syarif Abdurrahman then asked them, "Who are you?". This seventh Dayaks are still using loincloth berlata: "HERE WE ARE LOOKING FOR PEOPLE LIVING HERITAGE Mempawah DERIVATIVES IN THE RIVER forked", then Syarif Abdurrahman asked again: "Could do  you work?" They also answer "all of us can work whatever".


Then Syarif Abdurrahman told all the problems they face especially ghosts disorders Pontianak, then Syarif Abdurrahman
seek seven Dayaks  help if they managed to cut down their trees to establish a mosque.
Seven
Dayaks even this would  not do otherwise but to be held a custom was  to drain the blood of animals (pigs) around the timber to be harvested it and asked for permission to spirits in the trees.


Then this seven Dayaks performed  rituals and sacrifices and they began to cut down the tree and without briefly rose trees uprooted.
The services seven Dayaks to Syarif Abdurrahman;  he gave  the gift sacks of rice and  clothes.

And they've got a garden area which extends along the River Ambawang, fifty fathoms wide.
Seven Dayaks then cleared  the land and was followed by a Dayak group in waves.


The first batch of some 20 families, leaders not named, they farmed and inhabited the village Durian.
The second delegation was led by Macan Sumit with 40 families inhabit the village of Left Cross- Simpang Kiri;
The third delegation led by Temenggung Madja
with 60 Members and   their families inhabit the Simpang Right Cross-Kanan


The
fifth delegation was led by Nek Nane  with 100 families, they inhabit the transition area, Ngabang and Landak area.
Thus the history of involvement of
Dayak in the establishment the kingdom of  Pontianak.

Istana Kadariah